Jumat, 05 November 2010

Keontentikan Alqur’an dari Aspek Bahasa dan Tulisan


Keontentikan Alqur’an dari Aspek Bahasa dan Tulisan
Oleh: Ahda Sabiela

A.Pendahuluan.
Segala puji syukur hanya kepada Allah Swt semata sang pencipta semesta, Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah merubah dunia menuju kesempurnaan.
Al qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia, banyak yang menganggap bahwasanya Al qur’an tidak otentik lagi seperti halnya kitab samawi lainya yang telah banyak campur tangan manusia didalamanya. Setelah melalui penelitian dengan menggunakan metode kritik historis yang telah diaplikasikan pada Injil dan hasilnya memang Injil sekarang bukanlah seperti yang diturunkan pertama kalinya, akan tetapi sebagai umat muslim sebagai kewajiban kita untuk mengimani kesucian Al qura’n tanpa ternodai suatu apapun itu, oleh karena itu makalah ini akan menjelaskan kesucian Al qur’an dari segi bahasa dan tulisan.

B.Keontetikan Al qur’an dari Aspek Baca’an.

1.Sab’ati ahruf dituliskanya Al- qur’an.
Menurut ahli bahasa arti dari harfun adalah segala sesuatu sisinya, penampakanya, ujungnya ataupun bagian dari sesuatu tersebut, dan juga bisa dikatakan satu huruf hijaiyah yang merupakan bagaian dari suatu kata.
Dalam pengertian sab’ati ahruf terjadi silang pendapat diantara para ulama, didalam buku muqoddimah tafsir menurut imam qurtubi terdapat 53 perbedaan pendapat diantara ulama tentang pengertian ini, 5 diantaranya ialah:
a.Pendapat jumhur ulama diantaranya ialah : Sofyan ibn Uyainah dan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir : yang dimaksud sabati ahruf adalah cara pengucapan dari arti yang berdekatan dengan lafadz yang berbeda, contohnya ialah : aqbala, taala, hallama. Menurut At-thohawi, diturunkanaya Al-qur’an dengan sab’ati ahruf agar mudah dibaca dengan tujuh dialek bahasa quraish. Pada masa Kholifah Usman bin afwan qiroah tersebut dijadikan satu didalam mushaf usmani dikarenakan terjadi perbedaan bacaan alqur’an, atas dasar qiroah terakhir yang dibacakan oleh jibril kepada nabi Muhammad pada akhir Ramadhan sebelum beliau wafat. Dengan demikian tertutuplah kemudahan bacaan sab’ati ahruf, demikian menurut Ibnu Katsir.

b.Al qur’an diturunkan sab’ati ahruf, bukan yang dimaksud semuanya dibaca dengan 7 dialek bahasa akan tetapi diantara ayat dibaca dengan suatu dialek dan ayat yang lain dibaca dengan dialek yang lain. Contohnya: يرتعْ يلعبْ ( yusuf:12) , menurut Al-Qodhi Al baqholani, perkataan ustman yaitu sesungguhnya Al qur’an diturunkan dengan bahasa Quraish, akan tetapi itu tidak menunjukan bahwasanya seluruh bahasa Al -qur’an itu diturunkan dengan bahasa Quraish dengan dalil Al qur’an قراناً عربياً (yusuf:2)


c.Terdapat 7 bahasa Al-qur’an terbatas didalam kabilah-kabilah arab, hal ini dikutip dari perkata’an Ustman : sesungguhnya Al-qur’an diturunkan dengan bahasa quraish, dan bahasa quraish adalah Bani Nadhir bin Haris yang dishohehkan dari perkata’an ahli nasab.

d.Sebagaian ulama berpendapat cara membaca Alqur’an merujuk kepada tujuh macam yaitu :

1)Tidak adanya perubahan tulisan dan arti contohnya:
صدرى و يضيقُ( يضيقَ ) (Syuaro : 13 )
2)Tidak adanya perubahan tulisan akan tetapi terdapat perbedaan arti, contohnya:
فقالوا ربنا باعدْ ( با عدَ ) بين أسفا رها ( Saba’ : 19 )
3)Terdapat perbedaan tulisan dan arti, contoh:
( ننشزها – ننشرها )

4)Terdapat perbedaan kata akan tetapi masih satu arti, contohnya:
(كا العهن النفوش- او- كاالصوف المنفوش) (Al Qori’ah : 5)
5)Terdapat perbedaan kata dan arti, contohnya:
و طلح منضود – و طلع منضود ) ) (Al-waqiah:29)
6)Adanya taqdim dan ta’khir, contohnya:
و جاءت سكرة الموت با الحق – او - سكرت الحق با الموت (Qof:19)
7)Adanya tambahan kata, contohnya:
تسع و تسعونعجة ( انثي ) ( Shod : 23 )


e.Sab’ati ahruf yang dimaksud didalam ma’na alqur’an ialah: perintah, larangan, janji, ancaman, kisah cerita, perdebatan, perumpama’an. Akan tetapi pendapat ini lemah, dikarenakan tidak disebut dengan ahruf.

2.Bacaan yang mutawatir dan tujuh qiro’ah.

Mushaf Utsmani merupakan Al-qur’an yang dipakai oleh umat muslim diseluruh penjuru dunia saat ini, didalamnya telah termaktub sebagian dari ahrufi sab’ah diturunkanya Al-qur’an dan telah dibenarkan periwayatanya oleh para imam. Menurut Shikh Muhammad Abdul Adhim Az-zzurqoni mushaf usmani telah mencakup keseluruhan ahrufi sab’ah .Hal ini dikarenakan metode penulisan mushaf usmani berdasarkan pada bahasa quraish yang ditulis dalam satu huruf tanpa ada tashkil dan titik penandaan huruf sehingga memberi ruang kepada umat muslim untuk membaca dengan ahrufi sab’ah, sesuai dengan riwayat baca’an yang benar.
Hal ini telah disepakati oleh para ahli fikih, quro, para ulama terkemuka tentang penulisan dialam mushaf utsmani bahwasnya ahrufi sab’ah telah termasuk didalamnya.





3.Ilmu Qiro’ah.

Ilmu qiroa’ah merupakan disiplin ilmu yang telah berdiri sendiri serta mendapat perhatian besar oleh para ahli tafsir . qiroah sendiri dibagi menjadi dua yaitu:
a.Baca’an yang tidak berhubungan dengan tafsir, dalam hal ini para qori’ berbeda pendapat tentang tata cara pengucapan huruf serta harokah. Contohnya baca’an ghunnah, ikhfa, panjang mad dan lain sebagainya.
b.Baca’an yang berhubungan dengan huruf dari suatu kata, para qori berbeda pendapat didalamnya. Inilah yang menambah keterkaitan penafsiran dikarenakan penetapan salah satu dari dua lafadz akan menjelaskan arti lainya dan perbeda’an pendapat tentang cara membaca lafadz akan memberikan makna yang lebih banyak pada satu lafadz. Misalnya:
لمستم النساء dengan لامستم النساء .
Ini menunjukkan bahwasanya Al-qur’an turun dengan dua lafadz, dan jika ditetapkan maka sebenarnya bacaan Al qur’an yang mashur diriwayatkan dari nabi.

Perbedaan pendapat dalam bacaan Al qur’an telah ada sejak zaman sahabat, dalam hadist umar bin Khotob didalam kitab shohih Bukhori diriwatkan: bahwasanya umar mendengarkan bacaan Al qur’an Hisyam bin Hakim bin Khizam dalam sholat yaitu surat al furqon, umar mendengarkan bacaan dengan huruf yang banyak belum pernah mendengarkan bacaa’an tersebut dibaca oleh nabi Muhammad. Setelah sholat selesai bertanyalah umar “ siapakah yang membacakan Al qur’an kepadamu setelah engkau dengarkan lalu kau baca seperti itu?” berkatalah Hisyam “ Rasulullah telah membacakan kepadaku” Umar berkata:” kamu telah berbohong karena Rasulullah telah membaca selain baca’an yang engkau ucapkan.”Lalu pergilah umar dengan Hisyam menghadap kepada Rasulullah, berkatalah Umar kepada Rosul “ Saya telah mendengar Hisyam membaca surat Al furqon dengan baca’an yang belum pernah dibaca sebelumnya,” lalu Rasulullah bersabda “ wahai hisyam bacalah! “ lalu Hisyam membaca dengan bacaan yang didengar umar, bersabdalah Rasul “ begitulah diturunkanya Al qur’an”. Rasulullah bersabda “ wahai umar bacalah!”lalu umar membaca dengan baca’anya, bersabdalah rosul “ begitulah diturunkanya Al qur’an, sesungguhnya alqur’an diturunkan sab’ati ahruf, maka bacalah yang mudah darinya.”
Dari hadist diatas ulama berbeda pendapat dalam penfasirannya:
a. Ulama yang berpendapat hadist ini mansukh, diantaranya Ibnu aroby, At-thobary, dan At-thohawi, bahwasanya bacaan ini keringangan didalam Islam, Allah memperbolehkan bangsa arab untuk membaca Al qur’an sesuai kebiasaanya, lalu terhapus dengan bahasa Quraish karena al qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut. Menurut Ibnu Aroby keringan tersebut ada ketika masa hidupnya Rasul lalu setelah itu terhapus oleh ijma para sahabat melalui wasiat Rasul, dengan dalih perkataan Umar: sesungguhnya Al qur’an diturunkan atas lisan bangsa Quraish. Menurut mereka pembatasan arti “keringanan” dengan tiga pendapat :
1)Kata ahruf diartikan sebagai banyak kata yang menunjukkan satu arti sebagai keringan para pembaca.
2)Perumpamaan dari bilangan dan kelapangan pembaca.
3)Maksud dari keringanan adalah kelapangan.

b.Ulama yang berpendapat hadist ini muhkam, bahwasanya yang dimaksud ahruf adalah maksud dari Al qur’an yaitu berupa perintah, larangan, halah, haram dan lain sebagainya.

4.Macam-macam Qiro’ah dari segi Sanad.

Sanad secara etimologi artinya: yang disandarkan
Secara terminology artinya: seseorang yang diriwayatkan.

Dari pengertian tersebut sanad dibagi menjadi delapan, yaitu: mutawatir,mashur, al arobiya, shadz, mudaroj, maudu, riwayah, khufadz.
a.Mutawatir adalah perpindahan secara keseluruhan tanpa adanya kebohongan didalamanya. Dalam hal ini qiroah sab’ah termasuk didalamanya termasuk tiga dari qiro’ah asaro. Tujuh mereka adalah:
1) Abu Rim Nafi’ bin Naim Almadani, meninggal di Madinah tahun 169 H.
2) Abdulllah bin Katsir, meninggal di Mekkah tahun 120 H.
3) Abu Umar Hamzah bin Habib Az-ziyat Alkufi, meninggal di Irak tahun 156 H.
4) Ziyad bin Ala Al-bisri, meninggal di Kufah tahun 154 H.
5) Abdullah bin Umar, meninggal di Damaskus tahun 117 H.
6) Abu Bakar Asim bin Abi najwad Al asadi, meninggal di Kufah tahun 127 H.
7) Abu Hasan Ali bin Hamzah Alkasai, meniggal di Re tahun 189H.

Adapun qiro’ah asaro ditambahkan tiga, yaitu:
1)Yazid bin Qo’qo Almadani atau yang lebih dikenal Abu’Ja’far meninggal di Madinah tahun 132 H.
2)Ishaq Abu Muhammad Alhadori atau yang sering dikenal Ya’qub meniggal di Bagdad tahun 229 H.
3)Ibnu Hisyan Albazari Abu Muhammad meniggal di Bagdad tahun 229 H.
b.Mashur adalah sanadnya benar dan yang meriwatkanya seorang yang adil dari awal periwayatan hingga akhir. Diantara mereka yang masuk kategori ini adalah As-syatibi, dalam bukunya As-syatibiyah, Ad-dani dalam bukunya At-taisir.
c.Al Arobiyah adalah dibenarkan sanadnya akan tetapi penulisanya yang berbeda.
d.Syadz dalam ilmu tafsir adalah qiro’ah yang belum mutawatir dari tabi’in.diantarnya yaitu: qiro’ah Muhisin, Yazid, Hasan Basri.
e.Mudaroj adalah apa yang ditambahkan didalam qiro’ah dengan cara tafsir, seperti baca’an Said bin Abi Waqos:
f.Maudu adalah apa yang dikembalikan kepada seorang perowi tanpa asal yang jelas.
g.Adapun riwayat dan hufadz adalah mereka yang disebutkan nabi dalam hadist Bukhori: Rosululloh bersabda :“ambillah Al qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, muadz, dan Ubai bin Ka’ab. “ sedangkan dari tabi’in diantara mereka adalah Mujahid, Said bin Jabir, Hasan.

C.Keontentikan Al qur’an dari Aspek Tulisan.

1.Bahasa yang ditulis Al qur’an

Mushaf Utsmani ditulis pada akhir tahun 24 H hingga permulaan tahun 25 H. Penulisan ini dikarenakan terjadi perselisihan antar umat muslim dalam membaca Al qur’an ketika terjadi perang melawan Armenia dan Azarbeijan dengan bangsa Irak, sebagian dari mereka mengklaim bacaannya lebih baik dari yang lain. Bangsa Syam mengikuti qiro’ah Abi bin Ka’ab, bangsa Irak mengikuti qiro’ah Ibnu Mas’ud dan sebagian mengikuti qiro’ah Abu Musa Ashary oleh karena itu ditakutkan akan terjadi perpecahan dikalangan umat muslim.
Dalam mushaf ustmani bahasa yang ditulis didalamnya menggunakan bahasa Quraish, hal ini merujuk pada perkataan umar “jika kalian berselisih bahasa arab dari bahasa Al qur’an dengan Zaid bin Tsabit maka tulislah dengan lisan Quraish, sesungguhnya Al qur’an diturunkan dengan lisan Quraish.” Arti lisan disini ialah dialek bahasa yang dikhususkan seluruh kabilah arab.

2.Khot yang ditulis Al qur’an

Al qur’an ditulis dibawah pengawasan Nabi Muhammad SWT, para sahabatlah yang menulis dengan kemampuan mereka yang tepercaya dalam penulisan arab. Zaid bin Tsabit adalah ketua dari penulisan ini jika terjadi kesalahan dalam penulisan maka tentu saja Allah akan menegur melalui Nabi Muhammad karena kesalahan penulisan akan mengakibatkan kesalahan pada bacaan.
Penulisan mushaf Ustmani merupakan penyalinan setelah dituliskanya Al qur’an pada masa Nabi dan Khalifah Abu bakar, Zaid bin Tsabit ikut terlibat didalamnya, oleh karena itulah Zaid ditunjuk untuk menjadi ketua dari panita penulisan mushaf ustmani yang berjumlah 12 dalam riwayat lain hanya 3 saja
Penulisan Mushaf Ustmani telah disepakati oleh para ulama pada zaman Khalifah Utsman bin Affan sehingga ketika mushaf yang lain dibakar dan digantikan dengan Mushaf Ustmani para ulamapun sependapat dengan pembakaran tersebut, dikarenakan penulisan mushaf Ustmani sama dengan diturunkanya Al qur’an kepada Rosullulah. Para ulama zaman sahabat, tabi’’in dan tabi’in telah menyepakati hal tersebut dan menghormatinya serta tidak terdapat perubahan dalam mushaf tersebut.

3.Bukti Kebenaran Rosm Ustmani.

Para Ulama berpendapat Rosm Ustmani yang ditulis dizaman Khalifah Ustman oleh Zaid bin Tsabit telah sesuai dengan turunya Al qur’an pertama kali dengan dalil sebgai berikut:

a.Al qur’an pada zaman Nabi Muhammad ditulis dibawah pengawasan Nabi melalui petunjuk Malikat jibril selaku pembawa dan wahyu, jadi jika terdapat kesalahan penulisan maka akan ditegur oleh Nabi. Sebelum dibacakan kepada para sahabat, wahyu tersebut dibacakan didepan Nabi sehingga dapat diketahui benar tidaknya tulisan tersebut.
b.Para qori sepakat mushaf ustmani telah sesuai dengan mushaf dizaman Nabi, karena mushaf utsmani telah mencakup sepuluh qiro’ah asaro yang mutawatir saat pertama kali ditulis tanpa menggunakan harokah dan titik penanda’an huruf.
c.Jika rosm ustmani tidak sesuai dengan nabi Muhammad maka akan ditegur oleh Nabi, karena nabi sendirilah yang mengawasi penulisan Al qur’an jika ada kesalahan penulisan maka akan ditegur langsung oleh Nabi seperti halnya dikatakan oleh Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan oleh Tobari.
d.Allah sendiri telah member garansi kebenaran Al qur’an dalam surat Al hijr : 9

4.Keistimewaan Rosm Ustmani.

Rosm Ustmani mempunyai banyak keistimewaan diantaranya adalah:
a. Urutan ayat yang sesuai didalam surat, lalu urutan surat yang sesuai dengan perintah Nabi dari malikat jibril selaku pembawa wahyu.
b.Rosm Usmani ditulis dengan kaidah penulisan yang tujuh, yaitu: alkhazfu, ziyadah, hamzah, badal, wasel, fasl. Apabila dalam satu kata terdapt dua dialek bacaan maka ditulis salah satu dari kedua bacaan tersebut, inilah yang mengharuskan para qori untuk belajar membaca secara talaqi dari para qori yang lain hingga sanadnya sampai kepada nabi. Keisitmewaan ini hanya dimiliki
Al qur’an tidak dengan kitab samawi lainya.
c.Rosm Usmani mencakup seluruh dialek qiroah Nabi yang mutawatir
d.Rosm Usmani mengandung rahasia ilahi, diantaranya:
و السمــــــاءَ بنيناها بأيدٍ و انــا لموسعون
Penggunaan dua ya menunjukkan keimanan kepada kekuasaan Allah untuk membangun langit tanpa ada yang sanggup menyamainya, ini merujuk kepada kaidah bahasa yaitu pengguanaan mabni menunjukkan penambahan makna.



5.Penggunaan Tanda Baca dalam Mushaf Ustmani .

Secara terminologi nuqtoh mempunyai arti:
a.Nuqtoh i’jami adalah tanda titik huruf untuk membedakan antara satu huruf dengan huruf lainya yang mempunyai kemiripan, misalnya huruf بdan ت .
b.Nuqtoh I’robi atau harokat adalah tanda baca untuk membedakan cara pengucapan lafadz, seperti َfathah diatas huruf, kasroh dibawah huruf

Para pakar sejarah telah sepakat bahwasanya generasi awal bangsa arab belum mengenal dalam penulisan hingga kedatangan Islam, para sahabat berbicara menggunakan bahasa Al qur’an dengan fasih dan benar sehingga penulisan Al qur’an dimasa Nabi tidak menggunakan tanda baca seperti sekarang ini. Setelah banyaknya ekspansi Islam kenegara-negara non arab terjadilah percampuran budaya dan bahasa sehingga mempengaruhi bahasa arab yang asli, lambat laun banyak terjadi kesalahan dalam membaca dan menulis.
Penulisan mushaf Ustmani tidak dilengkapi tanda baca diatas, baru pada masa tabi’in dan ekspansi islam yang begitu cepat para tabi’in membuat tanda baca tersebut karena kerusakan lisan dalam bahasa arab dan kesalahan membaca Al qur’an dan agar tidak terjadi lagi kesalahan dalam membaca dan menulis.
Untuk nuqtoh I’jami yang pertama kali membuat adalah Abu Aswad Ad-duwali jenis ini banyak dipakai oleh para qori untuk menjaga keaslian mushaf, sedangkan nuqtoh I’robi pertma kali yang membuat adalah Kholil bin Ahmad dan banyak dipakai oleh para pakar bahasa untuk menjaga kebenaran syair dan lafadz bahasa.
6.Jumlah dan Pengiriman Mushaf Ustmani.

Setelah penulisan mushaf ustmani selesai dilakukan penyalinan dan dilakukan pengiriman kesejumlah daerah. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah tersebut. Dikutip dari perkataan Amru Ad-dani, Jumhur Ulama berpendapat bahwasanya Ustman membuat salinan menjadi empat dikirim ke Kufah, Basro, Syam dan yang satu disimpan untuk dirinya, sedangkan yang lain Ustman menjadikanya tujuh ditambah ke Mekkah, Yaman, Bahrain dan pendapat pertama yang lebih kuat . Menurut Imam Suyuti dan Ibnu Hajar hanya lima.
Pengiriman mushaf Ustmani tidak begitu saja hanya dikirimkan lalu diserahkan ke daerah-daerah, akan tetapi untuk menjaga keaslian Al qur’an dikirimlah para sahabat yang berkompeten dalam qiroa’ah . Mereka adalah : Zaid bin Tsabit ke Madinah, Abdullah bin Saib ke Mekkah, Mughiroh bin Syihab ke Syam, Aba Abdurrohman As-salami ke Kufah, Amir bin Abdul Qois ke Basrah. Setelah pengiriman para sahabat, para penduduk setempat berbondong-bondong belajar kepada para pembawa mushaf yang telah belajar langsung dari Nabi sehingga qiroah mushaf terjaga sanadnya turun temurun hingga sekarang.
Setelah pengiriman itu timbul pertnyaan dimanakah keberadaan mushaf ustmani sekarang? Tidak ada kepastian, dalam hal ini menurut Ibnu Jazuri melihat mushaf bangsa Syam dan melihat mushaf lagi di Mesir. . Ibnu Fadlullah melihat mushaf ustmani di masjid Damaskus pada pertengahan tahun 8 H, sedangkan menurut pakar Turost mushaf ini terdapta di Madinah lalu berpindah ke Inggris hingga sekarang. As-safaqosi melihat mushaf ini di Madrosah Al fadhiliah di Cairo. menurut Dr Sahrusaid terdapat emapt lembar mushaf ustmani di Cordoba.

D.Penutup.

Alhamdulillah telah selesai makalah Ini ucapan syukur kepada sang Kholik atas izinya dapat menyajikan sekelumit pengetahuan dalam diskusi ini. Penulis sadar makalah ini begitu banyak kekurangan dikarenakan keterbatasan pengetahuan, oleh karena itu diharapkan koreksian dalam forum ini agar kedepan dapat lebih baik lagi.





E.Referensi

1.Al-Ak, As-Syaikh Kholil Abdurrohman, Ushulutafsir wa Qowa’iduhu, Darun Nafais, Lebanon, cet V, 2007.
2.Imam Muhammad bin Abdullah Az zarkasyi Badrudin, Al burhan fi Ulumilqur’an. Ditahkik Abilfadhli Ad dimyati, Darul Hadist cairo 2006.
3.Abdul Adhim Adz-zurqoni Muhammad, Manahilul Irfan fi Ulumilqur’an,ditahkik Prof Dr Ahmad Isa Al ma’sorowi, vol I Darussalam , cet ke 2,cairo 2006.
4.Dr. Qordhowi Yusuf, Kaifa Tata’amlu ma’a Al qur’aniladhim?, Darul Syuruk cet ke7, Cairo 2009.
5.As Syaikh Ali Hasan bin Abdul Ghoffar Abi, Al hujjatu Lilqur’an As sab’ah, ditahkik badruddin Qohwaji dan Basir Khubibani, Dar Al ma’mun li turost, Vol 1, cet I, Beirut 1984. pdf
6.Makalah Pdf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar