Rabu, 03 November 2010

Merasakan Denyut Nadi al-Qur'an


MERASAKAN DENYUT NADI AL-QUR'AN
(Metodologi Tafsir Haroki
Oleh : Wahyudi

A. Muqaddimah
Hegemoni kegelapan peradaban Jahiliyah modern yang menyerahkan parameter nilai kepada individu, kontrol moral bukan di tangan negara, suara mayoritas adalah kebenaran, kebebasan berekspresi adalah barometer kemajuan, pornografi dan pornoaksi adalah seni, homoseks legal, khamr legal, zina legal, riba legal, money politik adalah tradisi, kriminalitas meningkat, angka kemiskinan naik, pengangguran membludak, kekeringan spiritual, kesenjangan social, diskriminasi hukum dan setumpuk problematika lainnya yang terus menerus muncul, manusia membutuhkan cahaya solusi, solusi paripurna yang menjamin kebahagiaan mereka, yang mampu membebaskan mereka dari belenggu realita problematika, mereka sudah mencoba berbagai solusi yang ditawarkan ideologi buatan manusia, tetapi realita telah membuktikan kegagalannya.
Sesungguhnya obat yang mampu menyembuhkan segala penyakit mereka ada di tangan umat Islam, disadari atau tidak, obat, solusi dan cahaya itu adalah Al-Qur'an, konsep rabbani yang menjamin kebahagiaan untuk seluruh manusia dan dijamin mampu menyelesaikan semua problematika mereka, akan tetapi Al-Qur'an membutuhkan satu syarat untuk memenuhi janjinya, syarat tersebut adalah pergerakan, pergerakan yang mengaplikasikannya dalam realitas secara intensif dan sistematis sebagaimana pergerakan yang dilakukan oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya ra.
Pertanyaannya adalah bagaimana cara menerjemahkan atau menafsirkan Al-Qur'an dalam realitas? apakah seperti menafsirkannya di atas kertas? Makalah yang sangat sederhana ini akan berusaha menjawab pertanyaan ini insyaallah.
Keterbatasan waktu penulis menyebabkannya hanya mengambil "Fi Dzilalil Qur'an" yang ditulis oleh Sayyid Qutb rahimahullah sebagai sampel tafsir haraki, di samping alasan itu penulis telah melakukan sedikit perbandingan antara tafsir tersebut dengan Al-Asas Fit Tafsir yang ditulis oleh Sa'id Hawa rahimahullah, tetapi menurut penulis Sa'id Hawa tidak menjadikan manhaj haraki sebagai tujuan utama penulisan tafsirnya meskipun termasuk tujuannya karena Sa'id Hawa meletakkan tujuan realisasi makna-makna Al-Qur'an pada poin keempat dalam muqaddimahnya .
Oleh karena itu, penulis menjadikan Sayyid Qutb sebagai model penafsir haraki dan mengambil pendapat-pendapatnya dari berbagai tulisannya, tetapi penulis tidak menerima pendapatnya kecuali setelah penulis memahami kesesuaiannya dengan dalil dari Al-Qur'an, Sunnah dan atsar sahabat.
Penamaan Fi Dzilal dengan istilah " Tafsir Haraki " terdapat dalam desertasi doktoral DR. Shalah Abdul Fattah . Masalah kepeloporan Dzilal dalam madrasah penulisan " Tafsir Haraki " belum diketahui oleh penulis. Selamat menikmati makalah ini !!!.

B. Definisi
Secara bahasa, Tafsir bermakna At Tabyiin wal Al Kasyfu (penjelasan atau penyingkapan)
Secara Istilah, adalah sebuah ilmu yang berfungsi untuk memahami maksud Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an sesuai dengan kemampuan manusia.
Sedangkan makna haraki secara bahasa adalah pergerakan, dan secara istilah adalah sebuah pergerakan terorganisir yang bertujuan untuk merealisasikan Al-Qur'an.
Jadi definisi tafsir haraki adalah sebuah pemaknaan terhadap petunjuk-petuntuk Al-Qur'an dengan cara merealisasikannya secara terorganisir.
Program untuk mewujudkan Al-Qur'an dalam dunia realitas secara terorganisir pasti akan berhadapan dengan sistem jahiliyah yang merasa terusik eksistensinya, terjun ke dalam nuansa konflik dengan kejahiliyahan dan jihad secara intensif untuk menghadapinya adalah sebuah syarat bagi seseorang yang ingin memahami petunjuk-petunjuk dari makna realitas yang diinginkan oleh Al-Qur'an.
Sayyid Qutb mengatakan," untuk memahami makna Al-Qur'an yang sebenarnya dan mendapatkan inspirasi-inspirasi darinya bukan dengan cara memahami kata-kata dan kalimat-kalimatnya, bukan juga dengan cara menafsirkan Al-Qur'an dalam pengertian konvensional, akan tetapi caranya adalah mempersiapkan mental dengan bermodalkan atmosfer perasaan, pengetahuan dan pengalaman mirip seperti atmosfer perasaan, pengetahuan dan pengalaman yang meliputi turunnya Al-Qur'an dan meliputi kehidupan jamaah muslim waktu itu yang selalu menerima Al-Qur'an dalam kancah konflik dan perjuangan,
Perjuangan melawan syahwat dan musuh, yang membutuhkan pengorbanan dalam campuran suasana takut dan harap, saat lemah dan kuat, jatuh dan bangun, sebagaimana ketika dalam suasana mekkah, ketika dakwah masih belia, lemah dan minoritas, asing dalam masyarakat, nuansa lembah dan embargo, lapar dan takut, intimidasi dan pengusiran, pemutusan hubungan kecuali dengan Allah,....kemudian suasana madinah : saat tumbuh berkembangnya masyarakat muslim ditengah konspirasi dan kemunafikan, saat sedang mengatur diri dan perjuangan...nuansa Badr, Uhud, Khondaq, Hudaibiyah serta nuansa fathu makkah, peperangan Hunain, Tabuk, nuansa kematangan umat Islam dan kematangan sistem sosialnya, dinamika gesekan antara emosi, kemaslahatan dan berbagai prinsip di tengah proses kematangan dan pengaturan.
Dalam Atmosfer inilah, ayat-ayat Al-Qur'an hidup bergerak secara nyata, menampakkan hakikat makna dan segala inspirasinya, dan hanya di atmosfer yang mirip dengan ini sajalah Al-Qur'an membuka kekayaannya untuk hati, menganugerahkan segala rahasianya, menebarkan kewangiannya serta menjadi pentunjuk dan cahaya dalam usaha untuk melanjutkan dan memperhabarui kembali kehidupan Islam".

Keunikan Tafsir Haraki adalah ketika pemaknaan Al-Qur'an tidak berhenti untuk menjawab soal "What" ( apa makna ayat ini? ), tapi melanjutkan jawaban untuk soal " How" ( Bagaimana merealisasikannya?), tidak mencukupkan diri pada makna teoritis konseptual, tetapi berusaha merasakan makna realitas praktis aplikatifnya, tidak hanya level "ilmul yaqin" tapi sampai pada level " ainul yaqin " dan " haqqul yaqin" , bukan hanya kajian pustaka, tapi juga terjun langsung dalam kajian lapangan kenyataan karena tafsir haraki adalah hamzatul washl antara "yang senyatanya" dan "yang seharusnya".

C. Landasan Teoritis
Tafsir Haraki bukanlah barang baru racikan Sayyid Qutb yang tertuang dalam "Fi Dzilalil Qur'an" , tetapi ia adalah metode generasi awal Islam ( baca : para sahabat radhiyallahu anhum ) dalam memaknai Al-Qur'an, sebagaimana informasi yang diberikan oleh Ibnu Mas'ud ra berikut ini :
عن ابن مسعود، قال: كانَ الرجل مِنَّا إذا تعلَّم عَشْر آياتٍ لم يجاوزهُنّ حتى يعرف معانيهُنَّ، والعملَ بهنَّ
(شعيب الأرنؤط : هذا إسناد صحيح. وهو موقوف على ابن مسعود، ولكنه مرفوع معنى، لأن ابن مسعود إنما تعلم القرآن من رسول الله صلى الله عليه وسلم. فهو يحكي ما كان في ذلك العهد النبوي المنير.)
Metode ini pulalah yang menjadi hikmah kenapa Al-Qur'an turun secara bertahap tidak sekaligus karena jika Al-Qur'an turun sekaligus maka ia hanya akan menjadi buku panduan teori kehidupan yang tidak akan merubah realitas sebagaimana perubahan realistis yang terjadi pada masa awal Islam yang tidak hanya merubah wajah bangsa arab saja tapi mampu merubah wajah peradaban dunia internasional dalam durasi waktu tersingkat yang pernah terjadi dalam sejarah berdirinya sebuah peradaban.
Aisyah RA menceritakan pengaruh konkret yang disebabkan turunnya Al-Qur'an secara bertahap :
إنما نزل أول ما نزل منه سورة من المفصل فيها ذكر الجنة والنار حتى إذا ثاب الناس إلى الإسلام نزل الحلال والحرام ولو نزل أول شيء لا تشربوا الخمر لقالوا لا ندع الخمر أبدا ولو نزل لا تزنوا لقالوا لا ندع الزنا أبدا ( بخاري / فضائل القرآن)
Karena itu Allah berfirman :
وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
Dan Al-Qur'an itu Kami pisah-pisahkan (ayat-ayat atau surat-suratnya pen.) agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap ( Al-Isra' 106 )
Sayyid Qutb berkata," pemisahan (turunnya ayat atau surat) ini mempunyai tujuan, pembacaan secara pelan juga mempunyai tujuan....yaitu agar sempurna pembinaan, pembentukan dan penyusunan aqidah dalam bentuk 'organisasi yang hidup' bukan dalam bentuk 'teori epistemik' " .

D. Kaedah
Menurut penulis, yang dimaksud Sayyid dengan tafsir haraki adalah mufassir menafsirkan Al-Qur'an ketika sedang mengalami realitas makna Al-Qur'an (tahap pemaknaan aplikatif) atau setelah mengalaminya ( tahap pemaknaan setelah aplikasi), adapun pemaknaan teoritis konseptual sebelum aplikasi bukanlah termasuk tafsir haraki.
Enam kaedah dibawah ini adalah kaedah dari awal pemaknaan teoritis sampai pemaknaan aplikatif. Enam kaedah tersebut adalah :
1. Memiliki parameter pembeda antara Ashil dan Dakhil
Parameter yang membedakan mana penafsiran yang bisa diterima (ashil) dan mana penafsiran yang harus ditolak (dakhil) harus terhujam kuat dalam diri seorang mufassir sehingga ia tidak kebingungan di hutan belantara penafsiran orang lain terhadap Al-Qur'an dan bisa mengontrol penafsirannya sendiri.
DR. Adnan Zarzur melihat bahwa Fi Dzilalil Qur'an telah memenuhi 3 syarat tafsir ma'mul , yaitu :
1. Titik tolak dan fokusnya tertuju pada tujuan inti turunnya Al-Qur'an yang dibahasakan dengan bahasa zaman sekarang...bukan dengan tujuan untuk menambah wawasan ke Al-Qur'anan untuk setiap muslim tapi dengan tujuan untuk membentuk kepribadiannya sesuai dengan manhaj kitabullah.
2. Mencatat pemahaman dan aplikasi para sahabat ra terhadap makna-makna Al-Qur'an.
3. Berusaha keluar dari era khilaf dan kemadzhaban dalam menafsirkan Al-Qur'an dengan cara ketundukan secara langsung terhadap makna yang diberikan oleh Al-Qur'an serta bermodalkan keilmuan yang dibutuhkan untuk mengetahuinya.
DR. Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi memaparkan tujuan Dzilal dan berbagai sumber referensi yang dipakai Sayyid Qutb untuk membuktikan bahwa Dzilal benar-benar memenuhi syarat diatas .
Syarat pertama sudah sangat jelas terpenuhinya karena memang itulah tujuan inti tafsir haraki, syarat kedua juga telah terpenuhi secara manhaj kewajiban untuk konsisten dengan realitas nas dan sikap sahabat terhadap nas termasuk dalam manhaj tersebut yang tidak boleh lepas dari tafsir haraki, adapun syarat ketiga telah dibuktikan oleh DR. Shalah diatas.
Mungkin akan timbul pertanyaan " kenapa dalam memaknai tafsir seakan-akan secara dzahir Sayyid Qutb menafikan pendalaman ilmu teoritis seperti ilmu-ilmu Al-Qur'an? Benarkah hal ini yang menyebabkan banyak kesalahan dalam Dzilal yang dituduhkan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya salafi ?

2. Mengetahui rangkaian realitas teks
Syarat ini bukan untuk mengikat teks Al-Qur'an dengan ikatan ruang dan waktu tertentu atau membelenggunya dengan belenggu historis yang berakibat pada usaha untuk membonsai keagungan fungsionalnya yang telah menjadi agenda spektakuler musuh-musuh Islam. Akan tetapi syarat ini hanya berfungsi untuk memperjelas makna realitas ayat-ayat Al-Qur'an, memposisikanya pada posisi yang tepat dan yang paling penting pada tafsir haraki adalah melihat pengaruh nyata ayat-ayat Al-Qur'an dalam semua skala realitas secara sistematis dari turunnya ayat pertama sampai turunnya ayat terakhir serta melihat bagaimana proses interaksi Al-Qur'an dengan realitas berlangsung, bagaimana Al-Qur'an membongkar arsitektur ideologi dan realitas jahiliyah serta menggantinya dengan arsitektur Qur'ani, bagaimana peran Rasul SAW dan para sahabat ra dalam mengaplikasikan ayat-ayat dalam realitas diri dan realitas masyarakat mereka, baik skala lokal, nasional maupun internasional.
Sebenarnya syarat ini adalah bagian dari tafsir bis sunnah, tetapi bukan seperti pengertian yang biasa dipahami, yaitu hanya mengambil sunnah qauliyah Rasul SAW dan meninggalkan yang lain seperti fi'liyah dan taqririyahnya.
Sayyid Qutb menemukan 3 keunikan interaksi sahabat dengan Al-Qur'an yang membedakan mereka dengan generasi-generasi setelahnya , yaitu :
1. Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dasar satu-satunya dan As-Sunnah sebagai penjelasan untuk pedoman dasar ini dalam mengatur seluruh aspek kehidupan mereka dan menyelesaikan semua problematika dalam realitas yang mereka hadapi.
2. Perasaan menerima untuk dilaksanakan adalah dasar interaksi antara mereka dengan Al-Qur'an.
3. Transformasi total dari kejahiliyahan kepada Islam.
Realitas kehidupan Rasul SAW dan para sahabatnya adalah realitas Qur'ani yang dilegalkan langsung oleh Allah SWT karena tidak satupun realitas waktu yang luput dari bimbingan Allah yang disampaikan kepada manusia melalui Muhammad SAW.
Sayyid Qutb mengatakan," terlihat perkembangan yang jelas terjadi pada kondisi psikologi, internal jamaah dan lingkungan eksternal yang meliputinya, perkembangan yang hanya bisa diketahui oleh orang yang memperhatikan benang sirah dalam teks-teks Qur'ani" . Beliau rh juga sering menyulam ayat-ayat Al-Qur'an dengan benang sirah untuk memahami kaitan satu ayat dengan ayat-ayat lain.

3. Memahami universalitas Al-Qur'an dan koprehensifitasnya
Iman kepada universalitas Al-Qur'an adalah partikuler iman kepada Al-Qur'an karena Al-Qur'an adalah petunjuk Rabbani terakhir untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat, Allah Berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (سبأ 28)
Setelah realitas teks membantu kita untuk memperjelas pemahaman, langkah selanjutnya adalah memahami keumuman teks sebagaimana yang dikatakan dalam kaedah " Ibrah adalah keumuman lafadz bukan kekhususan makna " adapun jika lafadznya khusus maka metode analogi adalah sebuah alternatif, seperti dalam ayat-ayat qashas. Sayyid Qutb mengatakan," sesungguhnya Al-Qur'an ini datang bukan untuk menyikapi realita histori saja, tapi ia datang sebagai pedoman universal yang terlepas dari ikatan waktu dan ruang tertentu" .
Kemudian, iman kepada koprehensifitas Al-Qur'an dan memahaminya adalah juga bagian dari keimanan terhadap Al-Qur'an karena Allah berfirman :
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
Dari kata " kulli syai " dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an telah memberikan kaedah-kaedah umum dalam semua aspek kehidupan, contohnya :
Individu وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Keluarga قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَار ً
Pendidikan اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Hukum فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
Politik dalam negri وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Politik luar negeri كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Sosial وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَان ِ
Ekonomi كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاء مِنكُمْ
Militer وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ




4.Memahami realita histories dan realita mufassir secara khusus.
Ilmu sejarah berfungsi untuk menafsirkan realitas masa kini dan memprediksi masa depan karena ada kejadian yang terulang terus menerus sehingga menjadi sunnatullah atau kaedah permanent yang wajib diambil sebagai pelajaran untuk merubah realitas masa kini menuju masa depan yang lebih baik, Allah berfirman :
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ (يوسف : 111)
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ # هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلاً وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلاً (فاطر : 43)
Ilmu sejarah juga membantu seorang mufassir untuk mengutuhkan pemahamannya terhadap teks-teks Al-Qur'an yang terkait dengan sejarah atau sebagai bukti realitas kebenaran Al-Qur'an karena kebenaran dibuktikan jika sesuai dengan 2 hal , rasionalitas atau realitas, dan sejarah adalah realitas masa lalu.
Kesadaran terhadap realita lingkungan mufassir baik lokal, nasional atau pun internasional mutlak harus dimiliki oleh seorang mufassir haraki, bahkan ideologi-ideologi global yang menjadi dasar realitas internasional harus benar-benar dipahami karena realitas itu timbul dari sebuah ideologi tertentu.
Sayyid Qutb benar-benar memahami ideologi dan realita pada zamannya, contohnya ketika beliau menerangkan tujuan inti Al-Qur'an yaitu menjelaskan hakikat uluhiyah, ubudiyah dan hubungan antara keduanya, beliau berkata," Dan realitas kemanusiaan sepanjang sejarah membuktikan kebenaran hakikat ini, tidak pernah satu kalipun manusia menyimpang dari kemurnian ibadah kepada Allah semata, baik dari segi keyakinan maupun aturan dan menundukkan diri kepada selain Allah, baik berupa keyakinan dan ritual atau berupa hukum dan syari'at kecuali berakibat pada hilangnya nilai kemanusiaan, kemuliaan dan kebebasan mereka.
Eropa telah lari dari Allah ketika mereka lari dari tirani gereja yang sewenang-wenang atas nama agama palsu! Mereka juga telah memberontak kepada Allah ketika mereka memberontak gereja yang telah menghancurkan semua nilai kemanusiaan...kemudian setelah lepas dari itu, manusia mengira bahwa mereka telah menemukan nilai kemanusiaan, kebebasan, dan kebaikan mereka di bawah naungan sistem individualis demokrasi, mereka menggantungkan semua harapan pada kebebasan dan berbagai jaminan yang ditanggung oleh UUD buatan, perwakilan parlemen, kebebasan pers, jaminan hukum dan peradilan,...dan segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem ini....tapi apa akibatnya?? Akibatnya adalah muncul tirani kapitalisme yang merubah semua jaminan dan perangkat-perangkat tadi hanya sekedar imajinasi, dan menjadikan yang mayoritas menundukkan diri dalam keadaan terhina ( ibadah ) kepada tirani minoritas yang memiliki modal dan dengannya mampu memiliki suara moyoritas parlemen, UU buatan, kebebasan pers dan semua jaminan yang disangka oleh manusia sebagai sistem yang menjamin nilai kemanusiaan, kebebasan dan kemuliaan mereka dalam kondisi yang jauh dari Allah Subhanah!!!
Di pihak lain, sekelompok orang lari dari ketundukan kepada tirani klas pemilik modal kepada tirani klas buruh atau sistem komunis" .

5. Melihat realitas mufassir dengan kaca mata Qur'ani
Sayyid Qutb mengatakan," seharusnya Al-Qur'an ini dibaca dan diterima oleh generasi-generasi Islam dengan sadar, mentadabburinya bahwa ia adalah arahan-arahan yang hidup, turun hari ini, untuk mengatasi aneka ragam problematika hari ini, dan untuk menerangi jalan menuju masa depan, ia bukan hanya sekedar perkataan yang indah yang hanya dibaca, atau ia hanyalah rekaman kejadian masa lalu yang tidak akan terulang!
Dan kita tidak akan dapat mengambil manfaat dari Al-Qur'an sampai kita mampu mencari di dalamnya berbagai petunjuk yang mengarahkan realitas kehidupan kita hari ini dan hari esok, sebagaimana generasi awal Islam yang mencari petunjuk-petunjuk Al-Qur'an untuk mengarahkan semua aspek dalam realitas kehidupan mereka waktu itu" .
Kacamata ini juga berfungsi untuk melihat mana realitas yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan realitas yang diingankan Al-Qur'an.

6. Membawa realitas tersebut secara total kepada nilai-nilai yang diinginkan oleh teks secara terorganisir.
Inilah kaedah puncak dalam tafsir haraki, bergerak secara terorganisir untuk merealisasikan Al-Qur'an dalam semua aspek kehidupan seperti aspek pendidikan, politik, sosial, ekonomi, hukum, militer, keamanan serta berbagai aspek lainnya dan dalam semua skala baik skala individu, keluarga, masyarakat, negara, hubungan internasional dan seterusnya sebagaimana kata Sayyid Qutb," Al-Qur'an ini turun pada hati Rasulullah SAW agar beliau SAW membentuk sebuah umat dengan dasar Al-Qur'an, mendirikan Negara dengan dasar Al-Qur'an, mengatur mesyarakat dengan dasar Al-Qur'an, mendidik hati nurani, akhlak dan akal dengan dasar Al-Qur'an, untuk merumuskan hubungan antar masyarakat, antar Negara, antar peradaban, menghubungkan semuanya dengan satu ikatan yang kokoh, yang mampu menggabungkan segala sesuatu yang terpisah, menyusun bagian-bagiannya, mengikat semuanya dengan satu sumber konstitusi kehidupan, yaitu Islam" .
Perasaan menerima untuk diaplikasikan adalah kunci kesuksesan para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an, mereka selalu menuruti kemauan Al-Qur'an terhadap mereka, "apa yang Al-Qur'an mau dari mereka?" jika Al-Qur'an ingin mereka mempunyai pandangan hidup tertentu maka dengan segera mereka merubah pandangan hidupnya, jika Al-Qur'an ingin agar merubah pola kehidupan mereka maka mereka langsung merubahnya, mereka biarkan Al-Qur'an mendesign arsitektur realitas kehidupan mereka.
Sayyid Qutb berkata," ketika setiap individu dari generasi pertama Islam menerima Al-Qur'an dengan serius, mereka merasakan semua eksistensi dalam diri mereka mengalami goncangan yang dahsyat untuk menyusun ulang kerangkanya sesuai dengan konsep baru yang diberikan Islam kepada mereka, dan eksistensi lama yang dibangun dalam kejahiliyahan sesuai dengan konsep-konsep tertentu tentang kehidupan, sesuai dengan realita tertentu dalam kehidupan, tidak mungkin menetap dan mampu bertahan atau ditambal dengan tambalan konsep baru Islam, tetapi pasti ada goncangan dan hentakan yang dahsyat pada seluruh eksistensi yang lama untuk merekonstruksinya sesuai dengan arsitektur yang baru" .

Bagaimana sistematika perealisasian Al-Qur'an ?
عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ : لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- فَيَتَعَلَّمُ حَلاَلَهَا ، وَحَرَامَهَا ، وَآمِرَهَا ، وَزَاجِرَهَا ، وَمَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا. كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالاً يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيمَانِ فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِى مَا آمِرُهُ وَلاَ زَاجِرُهُ وَلاَ مَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ فَيَنْثُرُهُ نَثْرَ الدَّقَلِ.
Menurut penulis, yang dimaksud dengan Al-Qur'an dalam atsar ini adalah ayat-ayat hukum (halal, haram, perintah, larangan) karena pelajaran keimanan yang diberikan kepada para sahabat juga berasal dari Al-Qur'an, yaitu ayat-ayat keimanan yang turun di mekkah.
Meskikipun penulis tidak mengetahui kesahihan riwayat ini dikarenakan keterbatasan referensi, tetapi riwayat ini senada dengan riwayat Aisyah diatas serta sirah nabawiyah dan susunan Al-Qur'an sesuai turunnya, yaitu pada fase mekkah turun ayat-ayat yang menitik beratkan pada aqidah dan di fase medinah turun ayat-ayat yang menitik beratkan pada syariah.
Bertolak dari sinilah, Sayyid Qutb mengambil kesimpulan dalam Dzilal di muqaddimah surat Al-An'am bahwa sistematika realisasi Al-Qur'an dalam masyarakat yang berkonstitusi selain Al-Qur'an adalah aqidah kemudian syariah. Beliau memberi alasan dengan jelas kenapa Rasululullah dalam fase mekkah hanya mengangkat panji "La Ilaha Illallah" tidak panji-panji lain seperti panji nasionalisme, panji kesejahteraan, panji keadilan, dan yang semisalnya, beliau juga membantah syubhat orang-orang sekuler yang menuntut para dai untuk menunjukkan undang-undang Islam secara detail sesuai seperti susunan UU mereka.
Alasan utama beliau adalah karena "La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" adalah intisari Islam, dalam kalimat tersebut terkandung makna hakikat ketuhanan dan hakikat kehambaan serta hubungan antara keduanya, makna tersebut juga merupakan adalah tema inti Al-Qur'an, adapun perkara lain dalam Islam adalah konsekuensi dari makna tersebut.



E. Sebuah Contoh
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (2)
وما من نعمة يمسك الله معها رحمته حتى تنقلب هي بذاتها نقمة . وما من محنة تحفها رحمة الله حتى تكون هي بذاتها نعمة . . ينام الإنسان على الشوك مع رحمة الله فإذا هو مهاد . وينام على الحرير -وقد أمسكت عنه فإذا هو شوك القتاد . ويعالج أعسر الأمور برحمة الله فإذا هي هوادة ويسر . ويعالج أيسر الأمور وقد تخلت رحمة الله فإذا هي مشقة وعسر ....

فلا رجاء في أحد من خلقه ، ولا خوف لأحد من خلقه . فما أحد بمرسل من رحمة الله ما أمسكه الله .
أية طمأنينة؟ وأي قرار؟ وأي وضوح في التصورات والمشاعر والقيم والموازين تقره هذه الآية في الضمير؟!
آية واحدة ترسم للحياة صورة جديدة؛ وتنشئ في الشعور قيماً لهذه الحياة ثابتة؛ وموازين لا تهتز ولا تتأرجح ولا تتأثر بالمؤثرات كلها . ذهبت أم جاءت . كبرت أم صغرت . جلت أم هانت . كان مصدرها الناس أو الأحداث أو الأشياء!
صورة واحدة لو استقرت في قلب إنسان لصمد كالطود للأحداث والأشياء والأشخاص والقوى والقيم والاعتبارات ....
لقد واجهتني هذه الآية في هذه اللحظة وأنا في عسر وجهد وضيق ومشقة . واجهتني في لحظة جفاف روحي ، وشقاء نفسي ، وضيق بضائقة ، وعسر من مشقة . . واجهتني في ذات اللحظة . ويسر الله لي أن أطلع منها على حقيقتها . وأن تسكب حقيقتها في روحي؛ كأنما هي رحيق أرشفه وأحس سريانه ودبيبه في كياني . حقيقة أذوقها لا معنى أدركه . فكانت رحمة بذاتها . تقدم نفسها لي تفسيراً واقعياً لحقيقة الآية التي تفتحت لي تفتحها هذا . وقد قرأتها من قبل كثيراً . ومررت بها من قبل كثيراً . ولكنها اللحظة تسكب رحيقها وتحقق معناها ، وتنزل بحقيقتها المجردة ، وتقول : هأنذا . . نموذجاً من رحمة الله حين يفتحها . فانظر كيف تكون!
إنه لم يتغير شيء مما حولي . ولكن لقد تغير كل شيء في حسي! إنها نعمة ضخمة أن يتفتح القلب لحقيقة كبرى من حقائق هذا الوجود ، كالحقيقة الكبرى التي تتضمنها هذه الآية . نعمة يتذوقها الإنسان ويعيشها؛ ولكنه قلما يقدر على تصويرها ، أو نقلها للآخرين عن طريق الكتابة . وقد عشتها وتذوقتها وعرفتها . وتم هذا كله في أشد لحظات الضيق والجفاف التي مرت بي في حياتي . وهأنذا أجد الفرج والفرح والري والاسترواح والانطلاق من كل قيد ومن كل كرب ومن كل ضيق . وأنا في مكاني! إنها رحمة الله يفتح الله بابها ويسكب فيضها في آية من آياته .
F. Epilog
"Hidup dalam nuansa Qur'ani bukan bermakna mempelajari, membaca dan menelaah ilmu-ilmunya…sungguh ini bukanlah nuansa Qur'ani yang kami maksud…sesungguhnya yang kami maksud dengan kehidupan dalam nuansa Qur'ani adalah ketika seseorang hidup dalam nuansa, kondisi, pergerakan, beban, konflik, perhatian seperti ketika turunnya Al-Qur'an…seseorang hidup dalam perlawanan dengan kejahiliyahan yang meliputi dunia hari ini, di dalam hatinya, perhatiannya, gerakannya, ia menumbuhkan Islam dalam dirinya dan dalam diri orang lain, dalam kehidupannya dan kehidupan orang lain, di lain waktu ia melawan kejahiliyahan tersebut yang berbentuk konsep, perhatian, budaya dan semua realita praktisnya, semua kejahiliyahan yang menekannya, memeranginya, memerangi aqidah dan manhaj rabbaninya…
Inilah nuansa Qur'ani yang memungkinkan seseorang hidup di dalamnya sehingga ia bisa merasakan Al-Qur'an ini…karena dalam nuansa seperti inilah ia turun dan di samudera seperti inilah ia bekerja…dan orang-orang yang tidak hidup dalam nuansa seperti ini maka ia pasti terpisah dengan Al-Qur'an meskipun mereka telah begitu dalam mempelajari, membaca serta menelaah ilmu-ilmunya…".



Referensi
- Khasais At-Tashawwur Al-Islami, Sayyid Qutb, Darus Syuruq, Cet. XV, 2002 M, Kairo.
- Fi Dhilalil Qur'an, Sayyid Qutb, Darus Syuruq, Cet. 38, 2009 M, Kairo.
- Adhwa' 'Ala Ma'alim Fi At-Thariq, Salim Al-Bahnisawi, Darul Wafa', Cet. III, 2007 M, Manshurah.
- Bashair Dzawit Tamyiz, Al-Fairuz Abadi, tahqiq : Abd. Adzim At Thahawi, Lajnah Ihya' At Turats, 1970, Kairo.
- Usus Al-Yaqin, DR. Yusuf Mahmud Muhammad, Darul Hikmah, Cet. I, 1993, Doha.
- Tafsir At-Thabari, tahqiq : Mahmud M. Syakir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Cet. II, Kairo.
- Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Maktabah As-Salafiyah, Cet. III, 1407 H, Kairo.
- Al-Manhaj Al-Haraki fi Dzilalil Qur'an, DR. Shalah Abd. Fattah Al-Khalidi, Dar Ammar, Cet. II, 2000 M, Oman.
- Fit Tarikh Fikratun Wa Minhaj, Sayyid Qutb, Darus Syuruq, Cet. VIII, 2001 M, Kairo.
- Al-Asas Fit Tafsir, Sa'id Hawa, Darus Salam, pdf.
- As-Sunan Al-Kubra, Baihaqi, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Cet. III, 2002 M, Beirut.
- Madkhal Ila Dzilalil Qur'an, DR. Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Dar Ammar, Cet. II, 2000 M, Oman.
- Fi Dzilalil Qur'an Fil Mizan, DR. Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Dar Ammar, Cet. II, 2000 M, Oman.

1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus