Selasa, 19 April 2011

Metode Dalam Mengkaji Ijazul Ilmi Pada Al-Qur'an dan Hadist


Metode Dalam Mengkaji Ijazul Ilmi Pada Al-Qur'an dan Hadist (1)

Oleh : MH. Kholilyanto.

A. Mukadimah.

Maha suci Allah Swt. yang telah menciptakan semua yang dibutuhkan manusia, tidak ada Tuhan yang wajib disembah dan di agungkan kecuali Dia, yang dengan-Nya kita bersandar dan berharap untuk selalu mendapatkan rahmat serta maghfirohnya. Selawat serta salam selalu tetap tercurahkan kepada manusia super, Muhammad Saw. Kekasih-Nya dengan misi menyebarkan ketauhidan dan memberantas kebodohan serta kebobrokan akhlak, yang dibekali al-Qur'an sebagai mukjizat yang abadi, yang di wariskan kepada pengikutnya.
Perlu diketahui, sepanjang sejarah di dunia ini, tidak ada satu nash pun yang terjaga dari tahrif, pengurangan dan penambahan, kecuali al-Qur'an. Ini merupakan persoalan yang merombak adat kebiasaan, di samping sebagai mukjizat yang mendorong jiwa untuk membenarkannya.(2) Al- Quran juga berbicara tentang sains yang mencakup dari pada beberapa macam i'jaz mulai dari ijaz al- thibbi ( kedokteran ) i'jaz al- falaki ( astronomi ) i'jaz al- thabi'i ( fisika ) i'jaz adadi ( jumlah ) i'jaz ilmi ( informasi ) dan i'jaz-i'jaz lainnya. Hal ini sangat jelas, kalau al- Qur'an bukanlah buatan seorang Muhammad Saw., yang tidak bisa menulis dan membaca. Namun ini adalah kitab samawi yang bersumber dari Allah Swt., Tuhan penguasa jagad alam raya ini.
Kemajuan suatu peradaban akan membuka suatu rahasia- rahasia yang selama ini tidak terungkap. Banyak misteri yang selama ini ada dalam al-Qu'ran dan Hadist, hanya dipahami melalui keyakinan, namun tidak dibenarkan dengan teknologi. Akan tetapi, di abad ini banyak para ulama mengkaji serta meneliti beberapa ayat al-Qur'an dan Hadist yang berkaitan dengan sains dan mereka menemukan bukti-bukti akan kebenaran al-Qur'an dan Hadist. Di sana terdapat perbedaan pendapat para ulama, dalam penafsiran tafsir 'ilmi tersebut. Untuk lebih lanjutnya, mari kita bahas apa maksud dari pada mukjizat ilmu dalam al-Qur'an dan sunah serta apa sebabnya, sebagian para ulama menolaknya serta alas an apa sebagian ulama membolehkannya.


B. Definisi I'jazul Ilmi

I'jazul ilmi dalam segi bahasa terdiri dari dua kalimat:
a. Kalimat ajaz(3). Yang bermakna melemahkan kebalikan dari kata qudrah
( kuasa) pada dasarnya i'jaz itu adalah hal yang telah lewat, dikatakan
a' jazul umur ( perkara yang telah lewat )
b. Kalimat Ilmi ( pengetahuan ) lawan dari pada jahlun ( bodoh ) bisa dikatakan seorang ulama adalah orang yang paling alim (tahu ) di antara yang lainnya Ilmu juga bisa bisa diartikan dengan: Mengetahui sesuatu dengan hakikatnya.

Sedangkan tafsir ilmi atau i'jazul ilmi menurut istilah yaitu:

1. Menurut Syekh Abdul Mazid Adz Zindani,(4) "Tafsir i'jazul ilmi adalah menyingkap makna ayat di sela-sela yang telah tetap kebenarannya dari penelitian ilmu biologi. Sedangkan untuk i'jaz ilmi yaitu al-Qur'an mengabarkan hakikat sebuah kebenaran dari yang telah dipaparkannya, yang kemudian diadakan sebuah riset penelitian yang membenarkan apa yang telah dilontarkan oleh al-Qur'an yang belum diketahui di zaman nabi.
2. Sedangkan menurut Nazib Al-Agra yaitu "Kecocokan sebuah makna ayat dan hadist terhadap kebenaran penelitian, yang tidak diketahui pada waktu turunnya wahyu dan tidak diketahui kebenarannya, kecuali sesudah mengadakan riset ilmiah, atau dengan wasilah-wasilah materialisme. Hal ini untuk membenarkan risalah yang dibawa oleh nabi yang datang dari Allah Swt.

Adapun tujuan diadakannya riset ilmiah terhadap beberapa ayat dan hadist, tidak lain untuk membuktikan bahwa al- Qur'an dan Hadist adalah dua sumber agama islam yang suci, yang di dalamnya tidak ada kesia-siaan serta perkara yang bohong, sehingga nantinya diharapkan akan bertambahnya keimanan seorang mu'min dan mampuh memberikan dampak yang positif bagi sebagian orang non muslim, sehingga dapat mendorong non muslim untuk mempelajari keagungan al- Qur'an dan Sunah.
Perlu kita ketahui, bahwa masyarakat yang hidup di zaman sekarang, adalah masyarakat madani, yang hidup di tengah-tengah kemajuan teknologi dan sains yang tidak hanya menerima sesuatu kebenaran dengan keyakinan saja, akan tetapi harus dengan penelitian dari esensi kebenaran tersebut, khususnya masyarakat non Islam yang tidak mempercayai al-Qur'an dan Hadist kecuali sudah tersingkapnya suatu kebenaran dari objek yang mereka teliti. dari petunjuk al- Qur'an dan Hadist. Hal ini sebagai pemberitahuan bagi kaum muslimin khususnya dan umumnya kepada non muslim " Bahwa al- Qur'an dan Sunah tidak akan pernah saling bertentangan satu sama lain. Namun sebaliknya, keduanya saling menguatkan, melengkapi dan menjelaskan satu sama lainnya. Hal ini jelas menunjukan bahwa al-Qur'an dan sunah tidak pernah mengingkari kebenaran ilmiah yang dihasilkan dari riset penelitian yang modern.
Menurut Dr. Karim Sayid Ganim" Apabilah ada suatu isyarat ilmiah yang di lontarkan oleh al- Qur'an, maka harus membutuhkan kepada riset penelitian yang teliti dan pembahasan yang khusus. Dan setelah tersingkapnya suatu kebenaran dari hasil riset ilmiah tersebut, ketahuilah, bahwa itu bukanlah akhir dari tujuan riset ilmiah. Hal tersebut hanya sebagai wasilah untuk sampai kepada perbuatan yang terhormat, sehingga di harapkan dari kebenaran al- Qur'an menumbuhkan keyakinan yang kuat bagi seorang muslim sedangkan bagi non muslim membebaskan pemikirannya dari sifat dusta dan menjauhkan dirinya dari perbuatan yang menyimpang.

C. Faktor Yang Mendorong Mempelajari I'jazul Ilmi.

Di sana ada beberapa faktor yang mendorong para ulama islam untuk mengkaji dan mengadakan riset ilmiah, pada beberapa abad lalu dengan sebab dibawah ini:
1. Sesungguhnya risalah nabi Muhammad Saw. adalah bersifat terus menerus yang tidak hilang ditelan waktu dan tempat. Beberapa kitab suci terdahulu telah mengabarkan akan hadirnya seorang utusan dari bangsa Arab yang bernama Ahmad. Dialah nabi penutup dari nabi-nabi sesudahnya, dengan dibekali sebuah mukjizat yang berupa al- Qur'an. Para pemuka kafir Quraisy baik dari golongan Yahudi dan Nasrani sangat bersikeras untuk melenyapkan mukjizat nabi akhir zaman itu, dengan membuat sebuah fitnah serta sanggahan bahwa al- Qur'an adalah buatan Muhamad, yang bersumber dari berita terdahulu, yang diadopsi dari pembaritahuan pendeta Nasrani dan Yahudi kepadanya, hal ini tentu mengingkari esensi wahyu yang turun kepadanya. Maka, dari sinilah sebagian para ulama mengkaji , meneliti objek ijazul ilmi al-Qur'an dan Hadist nabi untuk menetapkan kebenaran wahyu yang turun kepadanya, serta untuk membantah sanggahan mereka bahwa al- Qur'an buatan Muhamad yang diberi tahu oleh pendeta-pendeta tatkala itu.

2. Menjadikan i'jazul ilmi sebagai wasilah dalam berdakwah kepada para intelektual non muslim yang berkecimpung di dalam riset ilmu pengetahuan, bahwa apa yang dikabarkan oleh al- Qur'an dan Sunah adalah berita yang absolut kebenarannya, dengan beberapa hasil riset ilmiah yang sesuai dengan berita al- Qur'an.

3. Menjelaskan kepada seluruh dunia, bahwa kebenaran dari hasil riset ilmiah yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunah sebagai suatu dalil, kalau mukjizat Allah Swt. itu sesuai dalam kondisi bagaimanapun, baik itu yang mencakup dalam permasalahan meterialisme, sosialisme dan lain sebagainya. Al- Qur'an dan Sunah adalah wahyu yang bersumber dari Allah Swt. yang relevan untuk setiap kondisi dan pantas untuk diikuti serta di patuhi segala perintah dan larangannya.


D. Perbedaan Antara Tafsir 'Ilmi dan I'jazul Ilmi Al-quran.

Maksud dari tafsir 'ilmi menurut sebagian ulama yaitu, "Bersandarnya suatu penafsiran ayat, kepada hasil riset yang telah diketahui atau diyakini akan kebenarannya.

Sedangkan menurut Syekh Abdul Mazid Ad Zindani adalah " Tersingkapnya makna ayat atau hadist, setelah diadakannya riset penelitian dengan ilmu kosmologi.
Adapun menurut Dr. Ahmad Muhammad Abdul Qodir "Bahwasanya awal dari pentafsiran 'ilmi dalam Al-Qur'an, tidaklah diharuskan di dalamnya untuk mendalami kebenaran permasalahan ilmiah, baik dengan penelitian atau penjelasan yang kongkret; karena tatkala itu para mufasir menafsirkan ayat al-Qur'an dengan metode yang ia sudah yakini kebenarannya pada waktu itu. Hal tersebut menjadikan tafsir ilmi tatkala itu bermacam-macam coraknya, karena lahir dari hasil iztihad mereka, sehingga bisa jadi tidak sampai kepada kedudukan yang mengagungkan. Namun, manakalah ada seseorang yang meneliti dan mengkaji permasalahan ini, dan kemudian mendapatkan sebuah kebenaran yang nyata dari segi ilmiah dan lain sebagainya, maka kita bisa menerima dengan akal sehat. Maka dari sini tidak diragukan lagi bahwa fase tafsir akan pindah ke fase i'jaz, dalam artian setiap i'jaz ilmi adalah tafsir ilmi dan tidak sebaliknya yaitu bukanlah setiap tafsir 'ilmi yaitu i'zajul ilmi.
Hal tersebut dikarenakan i'zajul ilmi yaitu sebuah isyarat terhadap permasalahan-permasalahn ilmiah kosmologi yang disebutkan di dalam nusus-nusus wahyu yang setelah beberapa abad tersingkaplah kebenarannya dari hasil penelitiannya.

E. Sikap Para Ulama Terhadap Tafsir 'Ilmi.(5)

Para ulama berbeda pandangan terhadap kedudukan tafsir 'ilmi, ada yang mengingkari akan esensinya, adapula yang menyetujui keberadaannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang membuat para ulama berbeda pendapat. Untuk lebih jelasanya, kita akan membahas sikap dan alasan yang jelas, kenapa sebagian para ulama mengingkari tafsir ilmi al- Qur'an.
Inilah nama beberapah tokoh ulama yang mengingkari serta menolak tafsir 'ilmi al-Qur'an yang diantaranya dari ulama-ulama terdahulu yaitu:

a. Abu Ishak as-Syatibi dengan mengatakan " Sesungguhnya kebanyakan manusia di zaman sekarang lebih banyak melampaui batas dalam berdakwah terhadap al- Qur'an, sehingga mereka begitu mudah menyandarkan setiap disiplin ilmu seperti biologi, mantik, dan ilmu umum bersumber dari al-Qur'an. Maka dari sinilah ulama salafus shaleh dari golongan sahabat, tabi'in dan sesudahnya yang lebih paham terhadap al- Qur'an dan Sunah, tidak pernah di antara mereka mengklaim bahwa ilmu-ilmu yang di atas bersumber dari al-Qur'an, kecuali sesuatu yang sudah tetap dari hukum-hukum taklifi dan hukum akhirat, walaupun mereka pada waktu itu mendalami serta meneliti al-Quran, tetap saja mereka tidak mengambil kesimpulan seperti anggapan orang selama ini, maka hal tersebut menunjukan sangkaan yang di atas tidaklah benar.

b. Mahmud Syaltut berpendapat "Sesungguhnya orang yang aktif dalam melakukan riset ilmiah, baik itu dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian melibatkan al-Quran di dalamnya, adalah kesalahan yang tidak bisa diragukan lagi, karena Allah Swt. tidak menurunkan al- Qur'an sebagai bahan perbandingan dalam riset penelitian, karena jika al-Qur'an dijadikan sebagai alat untuk membuktikan ilmu pengetahuan, maka bisa saja akan membawa kepada resiko, kalau suatu saat nanti akan dianulir oleh temuan baru. Sedangkan kedudukan suatu kebenaran riset ilmiah bersifat relatif, yang bisa dianulir oleh waktu dan tempat. Namun, mana kala al-Qur'an itu cocok dengan hasil penelitian dan untuk beberapa tahun dianulir berbeda, maka akan membawa kepada sifat keragu-raguan terhadap kitab suci al-Qur'an. Hal seperti inilah yang ditakutkan oleh kalangan ulama yang mengingkari i'zajul ilmi al-Qur'an

c. Syekh Muhammad Al-Ghazali berpendapat tentang masalah ini dengan mengatakan, "Janganlah kalian menafsirkan ayat al- Qur'an untuk sebuah penelitian, karena sebuah penelitian akan menerima suatu perubahan yang sesuai dengan waktu dan tempat. Dan jangan pula engkau memaparkan al- Qur'an karena perkiraan yang meragukan, karena bisa jadi akan berdampak kepada kesalahan. Namun, mana kala hasil penelitian itu sepakat dengan apa yang dipaparkan oleh al- Qur'an, maka penafsiran itu baik sesuai dengan firman Allah Swt. : "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (Surat fushshilat: 53).

Inilah nama – nama para ulama muta'akhirin yang tidak membolehkan menafsiran al- Qur'an dengan cara ilmiah yaitu:
1. Syekh Mahmud Syaltut.
2. Dr. Muhammad Husein Adzahabi.
3. Syekh Muhammad Al-Ghazali.
4. Syekh Muhammad Al- Madani.
5. Syekh Amin Al- khally.

Setelah kita mengetahui dasar-dasar pelarangan pentafsiran ijazul ilmi serta nama para ulama yang melarangnya, maka akan lebih baiknya kita mengetahui alasan beberapa ulama yang membolehkan ijazul ilmi terhadap al- Qur'an, di antara ulama yang membolehkan yaitu:

1. Abu Hamid Al- Ghazali.
2. Imam Ar-Razi.
3. Ibnu Abil Fadli Al-Mursi.
4. Imam Suyuthi.
5. Muhammad Rasyid Ridhlo.

Menurut Imam Al- Ghazali rohimahullah "Bahwasannya seluruh disiplin ilmu itu masuk kedalam kekuasaan Allah 'azza wa jalla, baik di dalam dzat-Nya dan juga di dalam sifat-sifat-Nya, dan kumpulan disiplin ilmu di jagad alam raya ini, tidak akan pernah ada akhirnya bagi manusia. Karena didalam Al-Qur'an itu sendiri terdapat beberapa isyarat serta tanda pengkodifikasian seluruh disiplin ilmu, yang hanya dapat diketahui dengan rumus-rumus tertentu serta dalil-dalil yang khusus, yang hanya dapat diketahui oleh orang yang memahami maksud dari kalamullah 'azza wa jalla.
Sedangkan menurut ulama muta'akhirin dari ulama hadist mereka berpendapat, boleh saja menjadikan Al-Qur'an itu sebagai objek kajian ilmiah( penelitian) untuk mencocokan sebuah penemuan dijaman sekarang, dengan apa yang telah diberitakan oleh al-Quran empat belas abad silam lalu.

Muhammad Abduh dan ulama-ulama muta'akhirin memberikan sebuah contoh(6)" pada ayat (7)
  •  
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,


Dengan ditafsirkan kalau burung ababil di sini adalah sejenis hewan yang berupa lalat atau nyamuk atau bakteri.
Sedangkan dalam ayat
    
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,


mereka menafsirkan bahwa batu di sini adalah debu yang di dalamnya terdapat kuman / basil yang ditiupkan oleh angin, yang apabila terkena olehnya akan menyebabkan kematian bagi seseorang.

Muhammad Abduh menjelaskan, "Boleh saja bagi kita meyakini bahwa burung disini yaitu dari jenis nyamuk atau lalat yang membawa bakteri penyakit, sedangkan batu disini yaitu tanah / debu yang beracun yang dibawa oleh angin yang apabila mengenai jasad manusia, maka akan masuk racun kedalam tubuhnya, dan kemudian memberi dampak luka, dan setelah itu membawa kepada terkupasnya daging dari tulangnya . ketahuilah kebanyakan dari burung-burung ini lemah yang Allah siapkan untuk menjadi pasukannya dalam membumi anguskan manusia yang Ia inginkan."


#Poin-Poin Penting Yang Mempunyai Kesamaan Di Antara Dua Pendapat Golongan di Atas.

Setelah kita mengetahui beberapa nama Ulama yang Pro dan Kontra terhadap tafsir ilmi al- Qur'an ternyata disana ada beberapa perkara atau poin yang mereka sepakati bersama yaitu:

a. Sesungguhnya suatu kebenaran ilmiah tidak akan pernah bertentangan dengan al- Qur'an, apabila dikonsultasihkan kepada penjelasan ayat-ayat kosmologi yang bisa diterima oleh syariat, lalu dijadikan sebagai bidang dakwah kepada umat.
b. Dari sekian banyak ayat-ayat dalam al-quran mempunyai isyarat yang berkaitan dengan bidang ilmiah yang telah di sebutkan 14 abad silam yang lalu. Dan hal yang seperti ini, yang dinamakan ijazul ilmi, sehingga tidak ada perbedaan di antara kalangan para ulama islam tentang hal ini.
c. Menjadikan al-Qur'an itu diperhitungkan esensinya sebagai kitab hidayah, dan petunjuk bagi kehidupan manusia, bukan sebagai kitab pemisah antara disiplin ilmu biologi, kosmologi dan ilmu lainnya.


F. Pondasi Yang Harus Diperhatikan Tatkala Mengkaji I'jazul 'Ilmi di Al-Qur'an dan Sunah.

Para ulama yang bergelut di bidang riset ilmu pengetahuan, dengan membawa al-Qur'an di dalamnya memberikan dasar-dasar yang harus diperhatikan oleh siapa saja yang ingin menjadikan al-Qur'an sebagai penguat hasil risetnya, atau bagi ilmuan yang mempunyai keinginan untuk mengkaji beberapa ayat yang menunjukan isyarat ilmiah dengan dasar-dasar di bawah ini:

1. Harus mempunyai keyakinan yang teguh, bahwa al-Qur'an dan Sunah adalah bagian dari pada kitab suci agama Islam yang tidak ada keraguan di dalamnya, yang Allah Swt. wahyukan kepada nabi Muhamad Saw. yang tidak terdapat kecacatan di sisinya. Tentunya hal ini sudah masyhur di kalangan umat Islam, kalau al-Qur'an kalamullah sebagaimana dalam firman-Nya.(8)
                   

"Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas"
.
Adapun untuk Hadist ia juga termasuk bagian dari wahyu Allah Swt, namun untuk lafaz bersumber dari nabi Muhamad Saw., sebagaimana yang di katakan Allah Swt dalam firman-Nya. (9)
          
3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).




2. Menetapkan suatu keyakinan, kalau al-Qur'an dan Sunah adalah pedoman hidup manusia yang tidak terkontaminasi kesuciannya sebagai nasehat, maka janganlah bersifat sewenang-wenang dalam mentakwilkan keduanya untuk menetapkan maksud yang dituju, dan apa yang dipaparkan al-Qur'an serta Sunah tidak akan pernah bertentangan dengan riset ilmu pengetahuan, dengan dalil ayat yang pertama iqro' ( baca ) mendorong untuk mendalami disiplin ilmu maka tidak masuk akal risalah yang dibawa oleh Rasulullah bertentangan dengan ilmu pengetahuan

3. Seyogyanya menjauhkan al-Qur'an dan Sunah terhadap riset ilmiah, manakalah sudah sampai kepada penjelasan yang dimaksud dan hindarkan mempublikasikan atas keterlibatan al-Qur'an terhadap kegiatan riset ilmu tersebut, karena ditakutkan akan berdampak kepada ketidakabsolutan al-Qur'an dan Hadist dikemudian hari, manakalah terjadi resiko teranulir oleh penemuan baru yang tidak sesuai dengan penemuan yang dulu.

4. Pemusatan dalam mengkaji dalil Hadist, harus bersandar kepada Hadist yang sahih tidak menyandarkan kepada Hadist yang dha'if, walaupun dikuatkan oleh beberapa hal.

5. Sesungguhnya Al-Qur'an bukanlah pedoman kitab riset ilmu pengetahuan dan teknologi saja begitu juga dengan Hadist nabi. Jika hal demikian diartikan seperti itu, maka hal ini akan meniadakan tujuan yang pertama diturunkannya al-Qur'an sebagai hidayah untuk manusia dan pembimbing kepada jalan yang hak.

Menurut Ustadz Abbas Mahmud Al- Aqod(10) "Ketahuilah bahwa al-Qur'an sejatinya banyak membimbing kita kepada ilmu dan pengetahuan. Namun, bimbingan al-Qur'an bagi manusia dalam masalah ilmu akidah, karena al-Qur'an adalah kitab akidah, bukan sebuah kitab disiplin ilmu kimia, biologi dan yang lainnya. Jadi, tidak semestinya bagi seorang mu'min, menjadikan al-Qur'an itu sebagai kitab riset ilmiah, yang digunakan untuk menggali ilmu pengetahuan dan teknologi, yang nantinya akan dipergunakan untuk mempresentasihkan hasil riset tersebut, maka hal ini sangat mengkuatirkan mana kala akal manusia yang lemah ini tidak mampuh membaca rahasia kebesaran Allah Swt. Maka, dengan mudahnya dia akan menyalahkan al-Qur'an, tatkala al-Qur'an tidak sesuai dengan hasil riset tersebut

Pendapat Ustad Abbas hampir sama dengan pandangan DR. Abdul Karim Usman yang mengatakan "Bahwa al-Qur'an adalah kitab akidah, yang mencakup di dalamnya kepada dua perkara dibawah ini.
a. Mengikat sebuah perbedaan pengetahuan dan disiplin ilmu dengan iman dan akidah.
b. Mendorong manusia untuk berfikir positif, meneliti yang benar kepada kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh jagad raya ini.

6. Mengetahui kaidah bahasa Arab dan standar penjelasan ayat tersebut.
7.Pengukuhan nusus, karena tidak semua Hadist mempunyai kedudukan yang sahih, adakalanya hasan ataupun dha'if, maka sebelum dikaji lebih jauh dianjurkan untuk melihat derajat Hadist tersebut.
8. Saling menguatkan antara ayat al-Qur'an dan Hadist atau sebaliknya sehingga tidak jatuh kepada pemahaman yang setengah- setengah atau secara globalnya saja , agar tidak terjatuh kepada kekeliruan dalam memahami Hadist dan al-Qur'an.


G. Histori Lahirnya I'jazul Ilmi di Dalam Al-Qur'an dan Sunah.

Al-Qur'an sebagai kitab suci kaum muslimin tentunya mempunyai rahasia-rahasia yang tidak tersingkap oleh panca indra, seyogyanya tatkala kita mengkaji dengan mengeluarkan segenap kemampuan yang Allah anugerahkan kepada kita, tentunya kita akan menemukan kandungan yang menakjubkan dalam kitab suci ini, mulai dari keindahan segi bahasanya, uslub-nya, dan seluruh disiplin ilmu lainnya. hal tersebut membuat para tokoh muslimin mengkaji dengan cerdas apa yang telah tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadist khususnya dalam bidang ilmu kosmologi yang berkaitan dengan kehidupan manusia, yang berbau sains.
Maka pada abad ke tiga hijriah bertepatan dengan inspansi islam ke berbagai daerah dan ramainya penterjemahan kitab non arab kedalam bahasa arab, timbul lah gagasan riset ilmiah terhadap Al- Qur'an dan Hadist yang pada waktu itu terkodifikasihkan kepada dua metode
a. Di sela-sela penulisan kitab tafsir.
b. Penulisa independen terhadap i'jaz, seperti ijaz bayan dan ijaz bahasa, pada awal pengkodifikasian ijaz tatkala itu.

Adapun sebagian Ulama yang mengkaji ijazul ilmi di sela-sela kitab tafsirnya sebagaimana yang di katakan oleh Dr. Karim Sayid Ghanim yaitu:

1. Al- Imam Ibnu jarir At- thabari yangwafat pada tahun 310.
2. Al-Imam Al- Baqolani pada abad ke lima hijriah tahun 430 dengan nama kitabnya Ijazul Qur’an.
3. Al- Imam Jamahsyari pada abad ke 6 tahun 538 H.
4. Ibnu Atiah Al- Karnati 542 H.

5. Kemudian pada abad ke 7 mulai banyak para Ulama yang mengkaji ijazul ilmi seperti Al- Imam Fakhurudin Ar- raji 606 . Kemudian Imam Al- Qurtubi 671 H, didalam tafsirnya Jamiul ahkamul qur’an dan Imam Al- Baidhawi 68O H. didalam kitabnya Anwarul Tanjil.

H. Contoh I'jazul Ilmi Dalam Al-Quran.

#Ayat 222 dari surat al-Baqorah, yaitu:
Islam telah mengharamkan menyetubuhi seorang istri yang sedang haid dikarenakan akan menimbulkan dampak yang berbahaya pada diri kita, hal ini dibenarkan oleh riset ilmiah sebagaimana dikatakan oleh Dr. Sabir Wafahuri, "Bahwasanya melakukan hubungan badan dalam keadaan haid dan di sela-sela setelah bersalin yang pertama sesudah wiladah terkadang akan menyebabkan berdambak yang negatif bagi seorang wanita untuk terjangkit penyakit yang berbahaya dengan sebab menyebarnya baksil ke dalam dirinya melalui jalan bersetubuh yang akan berdampak kepada kemandulan bagi seorang wanita. Hal ini dikuatkan juga oleh pendapatnya Dr. Muhamad Abdullah yang melarang menyetubuhi istri yang sedang haid. Hal tersebut akan berdampak,
1. Seorang wanita yang sedang haid akan mengeluarkan hormon yang khusus yang berbeda dari hari-hari sehatnya, dan hormon ini akan menjadikan seorang wanita akan merasakan kesulitan sehingga menimbulkan rasa benci dalam berhubungan. Perlu diketahui bahwa meninggalkan hubungan badan dalam keadaan haid adalah salah satu bentuk memuliakan pasangan kita.
2. Apabila memaksakan hubungan badan terhadapnya, maka akan berdampak melukai kulit bagian mrs.V-nya dan akan mengakibatkan bertambah banyaknya darah yang keluar dari kemaluannya.
3. Darah haid perumpamaan dari tumbuhnya baksil yang akan masuk kedalam rahim dan kemaluan laki- laki yang kemudian mengendap dan tumbuh penyakit di dalamnya.
4. Kebanyakan seorang wanita akan menginsfeksi radang kemaluan dan leher rahim dengan masuknya baksil di sela-sela hubungan badan.
Inilah rahasia kenapa dilarangnya berhubungan badan tatkala seorang wanita sedang haid, yang bisa membawa dampak negatif bagi keduanya.

# Contoh Ijazul Ilmi di Dalam Hadist.

Hadist yang diriwayatkan oleh Umu Salamah beliau berkata” Ya Rasulallah sesungguhnya Allah Swt. tidak malu terhadap suatu kebenaran. Apakah bagi seorang wanita itu diwajibkan mandi tatkala ia bermimpi enak (bersetubuh)?" Kemudian nabi berkata, ya, apabila ia melihat air (mani). Kemudian Umu Salamah tersenyum dengan berkata, "Seorang wanita yang bermimpi?" Kemudian nabi berkata: Maka dengan apa seorang anak akan lahir kecuali dari air dia.
Setelah beberapa ulama mengkaji tentang hadist ini,ternyata hadist tersebut mencakup kepada dua pembahasan:
1. Tentang fikih.
Yang masuk kepada pembahasan masalah ibadah yaitu dari segi syarat diterimanya ibadah yang di antaranya harus dalam keadaan suci baik dari hadas besar maupun hadas kecil. Hal ini tentunya tidak ada pendeskriminasian antara pria dan wanita, karena dalam ibadah kedudukan wanita itu sama seperti pria kecuali beberapa hal yang memang terdapat toleransi bagi wanita seperti haid dan nifas, sehingga tidak diwajibkan bagi mereka mengganti shalat yang mereka tinggalkan. Adapun dalam masalah puasa, maka kewajiban tersebut tidak gugur untuknya karena puasa adalah amalan ibadah yang datangnya hanya setahun sekali, berbeda dengan shalat yang dilaksankan setiap hari yang dibebankan kepada kaum muslimin.
2. Berkaitan tentang penciptaan.
Bahwasanya dalam lafadz ??? ???? ????? mencakup di dalamnya ijazul ilmi yang berkenaan dengan sifat , nasab yang diwariskan oleh orang tua kepada anaknya. Ini adalah salah satu ijazul ilmi dari rasulullah yang mana telah melegalkan bahwa terbentuknya seorang anak dari air (mani) pria dan wanita, dan juga bagi seorang ibu dibeberapa hal akan lebih banyak mewariskan sifatnya kepada anak tersebut dibandingkan suaminya. Itu semua disebabkan karena lebih banyaknya gen-gen yang masuk dalam diri anak pada waktu ia di dalam kandungan. Dan permasalahan yang urgen ini belum tersingkap, tatkala waktu turunya risalah tidak juga sesudahnya atau dari waktu kewaktu sampai kepada abad sekarang sekitar abad kedua kemungkinan.
Para ilmuan berbeda pendapat tentang pembentukan janin kita bisa melihat setiap golongan berbeda pendapat satu sama lain seperti beberapa pendapat di bawah ini.
1. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa pembentukan seorang anak dalam janin itu secara spontanitas, yang dibantu oleh iklim tempat tinggal, panas yang terntentu, dan unsur-unsur bumi.
2. Kelompok kedua berpendapat, bahwa esensi gen seorang ibu itu tidak ikut andil dalam mewariskan pola pikir seorang anak, akan tetapi sperma seorang ayah itu, yang mempengaruhi anak.
3. Kelompok ketiga berpendapat, bahwa esensi pembentukan janin seorang anak sampai ia tumbuh dewasa, adalah percampuran antara sperma dan ovum, namun seorang ibu lebih banyak mewariskan sifat dan wataknya kepada seorang anak.





I. Epilog.

Al-Qur'an sebagai mu'jizat nabi Muhammad Saw. telah membuktikan keontentikannya sebagai kitab suci yang paling agung. Ia bersumber dari Allah Swt., dan kini telah menjawab segala tantangan serta sangkaan yang selama ini di lontarkan oleh orang- orang kafir sebagai kitab buatan manusia. Bagaimana bisa dikatakan buatan manusia, kalau di dalamnya tersingkap seluruh disiplin ilmu, baik yang kasat mata ataupun tidak; sehingga banyak ilmuan yang merujuk hasil penelitiannya kepada al-Qur'an atau hanya sekadar meneliti apa yang dilontarkan oleh al-Qur'an tentang penciptaan dan hal lainnya. Al-Qur'an telah membuktikan kalau keberadaannya tidak bertentangan dengan disiplin ilmu biologi, kimia dan kosmologi. Bahkan ia sebagai penguat dari disiplin ilmu tersebut. Wallâhu 'alam.

J. Kitab-kitab Rujukan.

# al-Qur'an Terjemah Bahasa Indonesia.
# Kitab Filsafat al-Qur'an, karya DR. Abas Mahmud Al-Aqad.
# Kitab Tafsir 'ilmi al-Qur'an dan hadits, karya DR. Ahmad Amru Abu Hajar.
# Kitab Isyaratul'ilmiyyah Dalam al-Qur'an dan hadits, karya DR. Karim Sayid Ghanim.
# al-Qur'an Rahasia Angka, karya DR. Abu Zahra an-Najdi.
# Kitab Lisanul Arab, karya Ibnu Mandzur.


K. Catatan Kaki.


(1). Makalah ini dipresentasihkan dalam acara kajian Aktif pada tanggal 15-4-2011 di Kairo.
(2). Al-Qur'an Rahasia Angka oleh Dr. Abu Zahra An- Najdi Hal 1
(3). Lisanul Arab Dr. Ibnu Mandjur Hal 2816
(4). Salah satu Ulama Yaman dan salah satu pencetus muasas izajul ilmi di Mekah
(5). Dalam kitan Isyaratul Ilmiah dalam Al-Qur'an dan Hadist Dr. Karim Sayid Ghanim
(6). Kitab Tafsir Ilmi Al-Qur'an dan Hadist Dr. Ahmad Amru Abu Hajar Hal 171
(7). Surat Al- Fiil Ayat 3-4
(8). Surat As- Shuaraa ayat 192- 195
(9) Surat Al- Najm ayat 3-4
(10). Kitab palsafah Al-Qur'an Dr. Abas Mahmud Al- Aqad hal 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar