Jumat, 30 November 2012

Titik-titik Diakritis dan Tanda-tanda Vokal Dalam Al-Qur'an


Oleh: Irja Nasrulloh

Membahas masalah pemberian titik-titik diakritis (tanda pengenal) pada huruf-huruf "polos" al-Qur'an, maka kita akan menemukan beberapa pro-kontra. Beberapa ulama merasa keberatan dengan hal tersebut, dengan alasan berlebih-lebihan dalam penjagaan al-Qur'an dan khawatir akan mengubah eksistensi al-Qur'an itu sendiri. Diriwayakan dari Ibnu Mas'ud bahwa beliau berkata, "Biarkan al-Qur'an terbebas (dari apapun) dan jangan kalian campur dengan sesuatu apapun." [1]
Namun, zaman telah berubah dan memaksa kaum muslimin untuk meletakkan kaidah "tanda pengenal" dalam al-Qur'an, sebagai metode untuk menjaga keotentikan al-Qur'an.[2]
Tanpa berat hati, ulama pun sepakat untuk memperindah, memperbaiki serta memperjelas lafadz al-Qur'an.[3]
Akan ditemukan kontroversi tentang siapakah peletak pertama titik-titik diakritis dalam al-Qur'an tersebut. Diriwayatkan, bahwa peletak pertama kali adalah Abu Aswad ad-Dualy. Diriwayatkan pula, bahwa peletak pertama adalah Nasr bin 'Ashim al-Laitsy atau Ibnu Sirin.[4] Sebagian ulama juga mencantumkan Hajjaj bin Yusuf dalam peletakan kaidah tersebut (walaupun banyak kalangan yang mencela kepribadiannya).[5]
Penulis pun  mencoba cari jalan penengah tentang siapa peletak pertama kali kaidah di atas. Kesimpulannya, memang ada beberapa ulama yang tersebut dalam riwayat mempunyai peranan dalam peletakan kaidah tanda pengenal dalam al-Qur'an; hanya saja ada perbedaan "tema dalam discovery" tersebut.  Berikut ini penjelasan, sesuai kronologis, [6]


  1. Abu Aswad ad-Dualy: Meletakkan titik-titik sesuai i'rab (susunan kalimat). Jadi, beliau membuat sebuah kaidah; titik di atas huruf berarti fathah, titik di depan huruf berarti dhommah, titik di bawah huruf berarti kasrah, dan dua titik berarti tanwin. Titik tersebut ditulis dengan tinta berwarna yang berbeda dengan warna mushaf. Walaupun begitu, masih saja terjadi problem yaitu sulitnya membedakan huruf-huruf yang mirip; maka muncullah Nasr bin 'Ashim dan Yahya bin Ya'mur sebagai "Sang Hero" yang akan menyelesaikan problematika yang ada.
  2. Nasr bin 'Ashim dan Yahya bin Ya'mur: Meletakkan titik-titik sesuai aksen; untuk membedakan huruf-huruf yang sangat mirip, dengan warna tinta serupa dengan warna mushaf. Misal: satu titik di bawah untuk ba, dua titik di atas untuk ta, tiga titik di atas untuk tsa.
  3. Al-Kholil bin Ahmad  al-Farahidy:  Mengembangkan titik-titik i'rab menjadi harakat i'rab. Misal: Dhommah merupakan "evolusi" daripada waw (و)  kecil yang diletakkan di atas huruf. Fathah merupakan perubahan daripada alif (ا) kecil yang membentang (horisontal) di atas huruf. Kasrah merupakan perubahan daripada alif (ا) kecil yang membentang (horisontal) di bawah huruf. Tanwin merupakan gabungan dari dua harakat. Tasydid merupakan "potongan kepala" daripada huruf syin (ش). Sukun merupakan "potongan kepala" huruf kha (خ).

Wasallahu ‘ala muhammadin wa ‘alaa aalihi wasahbihi ajma’iin. Allahu ‘ala wa  ‘alamu bisshawab.



 Catatan Kaki:


[1] Syaikh Abdul Adzim Az-Zurqani, Manahilul 'Irfan, Vol. 1, Darul Hadith, Kairo, 2001, hal. 341

[2]  Ibid., hal. 341

[3] Syaikh M. Thahir bin Abdul Qadir Al-Kurdy Al Makky, Tarikh al-Qur’an wa Gharaibu Rasmihi wa hukmihi, ditahkik oleh Ust. Dr. Ahmad Isa Al-Mi’sarawy, Adhwaussalaf, Riyad, cet. I, 2008, hal. 227

[4] Abi 'Amr wa 'Utsman bin Sa'id bin 'Utsman ad-Dani al-Andalusi , Kitabun Nuqt, ditahkik oleh Syaikh Jamaluddin Muhamad Syaraf, Adhwaussalaf, Tanta, cet. I, 2010, hal. 148

[5] Ahmad Shams Madyan, Peta Pembelajaran al-Qur'an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet. I, 2008, hal. 101

[6] Syaikh Taufik bin Ibrahim Dhamrah , Rihlatul Qur'any Min Fammirrasul Ila Qurra'i Hadzazzaman, Adhwaussalaf, Tanta, cet. I, 2008, hal. 24-25

2 komentar:

  1. sedikit ralat dari saya.
    bahwa poit ke 3 dari artikel di atas.
    Al-Kholil bin Ahmad al-Farahidy: Mengembangkan titik-titik i'rab menjadi harakat i'rab. Misal: Dhommah merupakan "evolusi" daripada waw (و) kecil yang diletakkan di atas huruf. Fathah merupakan perubahan daripada alif (ا) kecil yang membentang (horisontal) di atas huruf. Kasrah merupakan perubahan daripada alif (ا) kecil yang membentang (horisontal) di bawah huruf. Tanwin merupakan gabungan dari dua harakat. Tasydid merupakan "potongan kepala" daripada huruf syin (ش). Sukun merupakan "potongan kepala" huruf kha (خ).
    menurut pemahaman saya :
    dhammah merupakan evolusi daripada huruw waw.
    fathah di ambil dari kepala hamzah yang terbentang di atas huruf bukan alif kecil yang terbentang di atas huruf.
    sedangkan kasrah di ambil dari potongan kepala huruf ya yang di bentangkan di bawah huruf bukan alif kecil yang dibentangkan di bawah huruf.

    *saling bertukar informasi.. :)
    semangat akhi...

    BalasHapus
  2. Terima kasih banya atas masukannya, Sobat :)

    BalasHapus