Rabu, 25 November 2009

Legalitas Interpretasi Al-Qur'an

(Kajian I)
Oleh: Wahyudi

Mukadimah
Era globalisasi ideology jahiliyah modern yang bernama Liberalisme Sekuler yang didukung dengan kekuatan militer internasional, ditumbuhkembangkan oleh berbagai media massa internasional baik elektronik maupun cetak yang disutradarai oleh Yahudi dan dimainkan oleh Amerika ingin menghancurkan kemegahan bangunan aqidah umat Islam dan memadamkan cahaya syariahnya.
Akan tetapi dengan kekuasaan Pencipta Jagad Raya,kemurnian Islam masih terjaga melalui hamba-hambaNya yang memiliki keyakinan,kesabaran serta pengorbanan untuk tegaknya Islam di planet bumi ini.
Setelah keputusasaan musuh Islam untuk memalsukan lafadh-lafadh Al-Qur'an, sekarang mereka mencoba merusak Al Qur'an dari segi maknanya, cara ini cukup banyak memakan korban bahkan dari kalangan terpelajar yang menjadikan parameter kemajuan adalah barat,yang lebih parah lagi konsep musuh dalam memaknai Al Qur'an(baca: hermeneutika) dijadikan kurikulum Universitas yang berlebel Islam di Indonesia.
Lalu pertanyaannya,apa jawaban bagi syubhat mereka yang terbaru yang menyatakan bahwa Al-Qur'an yang masih terjaga/absolut/suci itu hanya lafadhnya,sedang maknanya relatif karena dipahami oleh akal manusia yang relatif? Apa kaitan teks Al Qur'an dengan konteksnya?apakah teks Al-Qur'an yang terbatas mampu menyelesaikan problematika realitas yang tidak terbatas?
Makalah ini berusaha mematahkan syubhat-syubhat tersebut.

A.Definisi Tafsir
Secara bahasa bermakna At Tabyiin wal Al Kasyfu (penjelasan atau penyingkapan)
Secara istilah barmakna suatu ilmu yang membahas tentang maksud Allah ta'ala sesuai dengan kemampuan manusiawi.definisi ini mancangkup setiap apa yang dibutuhkan dalam memahami makna dan menjelaskan maksud.
Dalam Al Qur'an lafadh tafsir hanya ada 1 di surat Al Furqan 33 yang bermakna jelas dan rinci.

B.Definisi Ta'wil
Secara bahasa diambil dari 2 asal kata
1.Al Awal yang bermakna Ar Ruju', jadi seakan-akan Al Mu'awwil mengembalikan kalam kepada kemungkinan makna-maknanya
2.Al Iyaalah yang bermakna As Siyasah, jadi seakan-akan Al Mu'awwil mengatur kalam dan menempatkannya di tempatnya.

Secara istilah
1.menurut salaf,ta'wil mempunyai 2 makna:
a.penafsiran kalam dan penjelasan maknanya baik sesuai dengan dhahirnya atau menyelisihinya, dalam definisi ini ta'wil dan tafsir menjadi sinonim
b.maksud kalam itu sendiri ,kalau kalamnya berbentuk tuntutan (thalab) maka ta'wilnya adalah pekerjaan yang dituntut itu dan jika kalamnya berbentuk khabar maka ta'wilnya adalah realitas(kenyataan) sesuatu yang dikhabarkan itu sendiri baik realitas dulu,sekarang atau yang akan datang seperti perkataan "matahari telah terbit" maka ta'wilnya adalah realitas terbitnya matahari itu sendiri. Dalam pandangan Ibn Taimiyah inilah bahasa Al Qur'an yang sebenarnya,dan atas dasar ini maka memungkinkan memaknai semua lafadh "ta'wil" dalam Al Qur'an dengan makna kedua ini.

2.menurut mutaakhirin,Ta'wil bermakna pemalingan sebuah lafadh dari maknanya yang rajih ke maknanya yang marjuh karena ada dalil yang memalingkannya.
Karena itu Al Mutaawwil dituntut dengan 2 hal:
a.menjelaskan adanya kemungkinan lafadh dibawa ke makna yang ia bawa dan ia klaim bahwa itu memang maksud lafadh tersebut
b.dengan dalil yang mengharuskan ta'wil tersebut

Perbedaan antara tafsir dan ta'wil
Banyak pendapat tentang perbedaan antara keduanya,tetapi yang dirajihkan oleh penulis kitab tafsir wal mufassirun dan belum sempat dinilai oleh pemakalah adalah bahw tafsir itu adalah dengan riwayat,sedang ta'wil itu dengan dirayah karena tafsir bermakna penyingkapan maksud Allah maka tidak mungkin kita memastikan bahwa tafsir ini adalah maksud Allah kecuali jika ada riwayat dari Rasul atau sahabat. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Zamakhsyari di Al Itqan.

C.Tafsir di zaman Rasulullah SAW
Penafsiran Al Qur'an di zaman Rasulullah SAW ditangani langsung oleh Allah SWT [Al Qiyamah 16-19] melalui Rasulullah yang telah dilantik sebagai penyampai lafadh wahyu dan makna(tafsir)nya sekaligus sebagaimana dalam firman Allah [An Nahl 44]
Oleh karena itu tidak ada satu realitas pun pada zaman Rasulullah yang menyimpang kecuali diluruskan langsung oleh wahyu dari Allah baik itu kekeliruan yang dilakukan oleh skala individu dari cara berpikir ,merasa,berkata,bertindak dan bersikap seperti kekeliruan Rasulullah yang ditegur dalam surat 'abasa, Al Anfal 67, Al Kahfi 23-24,Ali Imron 128,Al Ahzab 37-39, atau kekeliruan Sahabat ra seperti dalam surat At Taubah, 3 orang sahabat yang tidak ikut serta dalam perang tabuk, atau skala social seperti dalam surat At Taubah ayat 117.
Ketika sahabat keliru atau kesulitan dalam memahami Al Qur'an maka mereka akan langsung bertanya pada Rasul seperti kesulitan mereka dalam memahami makna lafadh dholim di surat Al An'am ayat 82.
Kadang Rasul mengajari sahabat metode tafsir Al Qur'an yaitu tafsir Qur'an bil Qur'an sebagaimana ketika menjelaskan makana lafadh dholim di surat Al An'am 82 diatas.
Tapi secara umum, sahabat memahami Al Qur'an dengan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa arab karena Al Qur'an diturunkan dengan bahasa mereka, seperti firman Allah dalam surat Yusuf 2,berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang metode atau masdar yang dijadikan sandaran penafsiran Al Qur'an di zaman Rasul.

Ibnu Abbas berkata dalam muqaddimah Tafsir Thabari :
Tafsir itu mempunyai 4 sisi:
1.Tafsir yang diketahui dengan bahasa arab
2.Tafsir yang harus diketahui oleh semua orang
3.Tafsir yang diketahui oleh ulama' saja
4.Tafsir yang diketahui oleh Allah saja




a.Metode Penafsiran Al Qur'an Dengan Bahasa Arab
-Dalil-dalil Qur'ani bahwa bahasa Al Qur'an adalah bahasa arab
16:103,26:195,41:44,12:2,20:113,39:28,41:3,42:7,43:3,13:37,46:12
Atas dasar dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa arab mutlak diperlukan dalam menafsirkan Al Qur'an.
Begitu juga ayat-ayat yang berbunyi " تتلى عليهم " mengisyaratkan bahwa ayat-ayat Allah cukup dibacakan saja kepada mereka tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, oleh karena itu kita melihat pemahaman mereka terhadap ayat-ayat yang dibacakan dari sikap-sikap mereka setelah dibacakan ayat-ayat Allah. Ini sebagai bukti bahwa secara umum ayat Al Qur'an bisa langsung dipahami dengan bahasa arab
Perhatikan pemahaman sahabat dalam hadits dibawah ini
{ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَة " الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانهمْ بِظُلْمٍ " شَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاس فَقَالُوا يَا رَسُول اللَّه أَيّنَا لَمْ يَظْلِم نَفْسه ؟ قَالَ إِنَّهُ لَيْسَ الَّذِي تَعْنُونَ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ الْعَبْد الصَّالِح " يَا بُنَيّ لَا تُشْرِك بِاَللَّهِ إِنَّ الشِّرْك لَظُلْم عَظِيم" إِنَّمَا هُوَ الشِّرْك}
رواه البخاري و مسلم
sebelum dijelaskan oleh Rasul,sahabat langsung memahami kata dhalim dengan makna umumnya dalam bahasa arab kemudian rasul menjelaskan kekhususan makna lafadh dhalim dalam ayat itu dan sekaligus mendemonstrasikan sebuah metode tafsir yaitu tafsir Al Qur'an bil Qur'an yang akan dijelaskan lebih lanjut setelah ini.
Dr.Musa'id bin Sulaiman dalam kitabnya Syarh Ushul at Tafsir ibn Taimiyah hal 43 berkata tentang hadits ini,"..dan (Rasul) menjelaskan kepada mereka bahwa makna ayat tersebut bukan makna umum secara bahasa,dan beliau tidak melarang mereka untuk menggunakan metode penafsiran al Qur'an secara bahasa…".
Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Adi bin Hatim ketika memahami makna ayat 182 dari surat Al Baqarah, ia mengambil tali/benang putih dan hitam dan mencobanya di malam hari tapi tetap tidak jelas perbedaannya,kemudian di pagi harinya ia menceritakan eksperimennya kepada Rasul kemudian Rasul menjelaskan bahwa itu adalah hitamnya malam dan putihnya siang.
Kasus-kasus diatas membuktikan bahwa metode umum penafsiran AlQur'an yang dipakai sahabat di zaman Rasul adalah dengan bahasa arab, sedang problem sahabat diatas bukan kesalahan metode tapi penerapan metode tersebut terhadap seluruh ayat karena memang metode tersebut tidak dapat diterapkan ke semua ayat Al Qur'an.

b.Metode Tafsir Alqur'an Dengan Qur'an dan Sunnah
Dalilnya riwayat tentang lafadh dholim diatas
Contoh bentuk-bentuk penafsiran Al Qur'an dengan Al Qur'an:
1.Bayan Al Mujmal, contoh : Al Maidah ayat 1[mujmal] dengan ayat 3[bayan]
2. Taqyid Al Mutlaq
3.Takhsis Al 'Am

As-Sunnah
As Sunnah adalah Bayan Al Qur'an, Allah berfirman dalam surat An Nahl 44:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Atas dasar ayat ini maka Rasulullah SAW menjadi penafsir resmi dari Allah, realitas(sunnah)nya menjadi realitas universal absolut makna lafadh-lafadh Al Qur'an sebagaimana kata 'Aisyah ra ketika ditanya apa akhlaq Rasul,ia berkata akhlaqnya adalah Al Qur'an (hadits riwayat ahmad,di shahihkan oleh Syaikh Syu'aib Ar Na'uth).Mungkin akan nada yang bertanya,"bukankah ada ikhtilaf di kalangan para ulama' tentang 'apakah Rasul menafsirkan semua ayat al Qur'an?',bukankah sedikit hadits-hadits yang shahih tentang penafsiran Rasul terhadap al Qur'an?"
Jawabannya:

Ada 3 pendapat dalam hal ini:
1.Rasulullah menjelaskan semua makna ayat Al Qur'an sebagaimana beliau menyampaikan semua lafadh-lafadhnya, diantara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Taimiyah.
2.Rasulullah tidak menjelaskan makna-makna ayat Al Qur'an kecuali sedikit, diantara mereka adalah Suyuti.
3.Rasulullah menjelaskan banyak makna-makna Al Qur'an tapi tidak semua.ini adalah tarjih Dr.M.Husein adz Dzahabi

Dalil-dalil 3 pendapat diatas:
Perdapat pertama
1.An Nahl 44
2.Hadits
-قال أبو عبد الرحمن السلمي حدثنا الذين كانوا يقرئوننا القرآن - كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما - أنهم كانوا إذا تعلموا من النبي صلى الله عليه وسلم عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل، قالوا: فتعلمنا القرآن و العلم جميعاً.
أخرجه الطبري في تفسيره، وقال المحقق في تعليقه على هذا الأثر: "هذا إسناد صحيح متصل". انظر: تفسير الطبري، تحقيق وتعليق محمود شاكر، وأحمد شاكر. وأخرجه الطبري عن طريق الحسين بن واقد، حدثنا الأعمش عن شقيق عن ابن مسعود قال: كان الرجل منا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزهن حتى يعرف معانيهن والعمل بهن.
قال المحقق: "هذا إسناد صحيح". وهو موقوف على ابن مسعود، ولكنه مرفوع معنى؛ لأن ابن مسعود إنما تعلم القرآن من رسول الله صلى الله عليه وسلم.
فهو يحكي ما كان في ذلك العهد النبوي المنير (المصدر السابق) وقال شعيب الأرناؤوط: "رجاله ثقات". انظر تعليقه على سير أعلام النبلاء

-«والذي لا إله غيره؛ ما نزلت آية من كتاب الله إلا وأنا أعلم فيمن نزلت وأين نزلت، ولو أعلم أحدًا أعلم مني بكتاب الله تناله المطايا لأتيتُه»؟!
(ابن مسعود) (رواه ابن جرير؟)
-فقد أخرج أبو نعيم في الحلية عن علي رضي الله عنه أنه قال والله ما نزلت آية إلا وقد علمت فيم نزلت و أين نزلت وإن ربي وهب لي قلبا عقولا و لسانا سئولا. و روى أبو الطفيل قال : شهدت عليا يخطب وهو يقول : سلوني فوالله لا تسئلوني عن شيء إلا أخبرتكم وسلوني عن كتاب الله فوالله ما من آية إلا وأنا أعلم أبليل نزلت أم بنهار أم في سهل أم في جبل .
-قال مجاهد :(عرضت المصحف على ابن عباس رضي الله عنهما من فاتحته إلى خاتمته ، أقف عند كل آية وأسأله عنها) .( رواه الطبري في مقدمة تفسيره 1/90، ط. دار المعارف)
قال: عرضت المصحف على ابن عباس ثلاث عرضات، من فاتحته إلى خاتمته أوقفه عند كل آية منه وأسأله عنها
: "عرضت المصحف على عبدالله بن عباس رضي الله عنهما من فاتحته إلى خاتمته، فما تجاوزت آية إلا وقفت عندها أسأله عن تفسيرها"
قال مجاهد : عرضت المصحف على ابن عباس من أوله إلى آخره، أقفه عند كل آية، وأسأله عنها. وقد تواترت النقول عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه تكلم في جميع معاني القرآن، ولم يقل عن آية إنها من المتشابه الذي لا يعلم أحد تأويله إلا الله. وقد صحح الإمام النووي هذا القول، مستدلاً على صحته، بأنه يبعد أن يخاطب سبحانه عباده بما لا سبيل لأحد من الخلق إلى معرفته .
قَالَ مُجَاهِدٌ : عَرَضْتُ الْمُصْحَفَ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ ، أَقِفُهُ عِنْدَ كُلِّ آيَةٍ وَأَسْأَلُهُ عَنْهَا . وَقَدْ تَوَاتَرَتِ النُّقُولُ عَنْهُ أَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي جَمِيعِ مَعَانِي الْقُرْآنِ ، وَلَمْ يَقُلْ عَنْ آيَةٍ : إِنَّهَا مِنَ الْمُتَشَابِهِ الَّذِي لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ( شرح العقيدة الطحاوية ) لابن أبي العز الحنفي رحمه الله,لابن جبرين , للحوالي
وقال الشعبي : ما ابتدع أحد بدعة إلا وفي كتاب الله بيانها.
وقال مسروق : ما سئل أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم عن شيء إلا وعلمه في القرآن، ولكن علمنا قصر عنه.
كما قال محمد بن إسحاق : حدثنا إبان بن صالح عن مجاهد قال : عرضت المصحف على ابن عباس ثلاث عرضات من فاتحته إلى خاتمتة ، أوقفه عند كل آية منه ، وأسأله عنها ، وبه قال الترمذى ، قال : حدثنا الحسين بن مهدى البصرى ، حدثنا عبد الرزاق عن معمر ، عن قتادة .قال : ما في القرآن آية إلا وقد سمعت فيها شيئاً ، وبه إليه قال : حدثنا ابن أبى عمر ، حدثنا سفيان بن عيينة ، عن الأعمش ، قال : قال مجاهد : لو كنت قرأت قراءة ابن مسعود لم احتج أن أسأل ابن عباس عن كثير من القرآن مما سألت . وقال ابن جرير : حدثنا أبو كريب قال : حدثنا طلق بن غنام ، عن عثمان المكى ، عن ابن أبى مليكة،قال: رأيت مجاهداً سأل ابن عباس عن تفسير القرآن ومعه ألواحه ، قال : فيقول له ابن عباس : اِكتب ، حتى سأله عن التفسير كله ، ولهذا كان سفيان الثورى يقول : إذا جاءك التفسير عن مجاهد فحسبك به .(مع الشيعة الاثنى العشر في الأصول و الفروع)

قال الثوري إذا جاءك التفسير عن مجاهد فحسبك به
وعلى تفسيره يعتمد البخاري و الشافعي
قال الحسن البصري ما أنزل الله آية إلا وهو يحب أن يعلم ما أراد بها

3.Ibn taimiyah dalam Al Fatawa berkata,"Allah berfirman فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ dan yang akan diperselisihkan pertama kali adalah makna Al Qur'an,seandainya Rasul tidak mengetahui maknanya maka tidak akan selesai perselisihan tersebut dengan merujuk kepada Rasul " sehingga tujuan ayat tidak tercapai ,adapun tentang Sunnah Khulafaurrasyidin itu bukan berarti mereka paham sendiri makna Al Qur'an tanpa Bayan Rasul bahkan itu berarti Rasul telah menjelaskan semuanya tapi untuk mengetahui kejelasan semua makna Al Qur'an, Rasul merekomendasikan juga melewati Sahabat ra.
Karena tujuan semua Rasul adalah menyelesaikan perselisihan pendapat yang paling berpotensi memecah persatuan manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 213

Pendapat kedua
1.Riwayat Aisyah ra bahwa Rasulullah tidak menafsirkan dari Al Qur'an kecuali beberapa ayat yang diajarkan oleh Jibril.(hadits munkar gharib karena di dalam sanadnya ada Muhammad bin Ja'far az Zubairi,Bukhari berkata,"La yutaba' fi hadisihi")
2.Allah tidak memerintahkan Rasul untuk menjelaskan semua makna Al Qur'an karena Allah juga memerintahkan hamba-hamba Nya untuk memikirkan makna Al Qur'an
3.Seandainya Rasul menjelaskan semua makna Al Qur'an maka beliau tidak akan mengkhususkan do'a ( علمه التأويل)untuk ibnu abbas karena ta'wil seharusnya sudah diketahui oleh semua sahabat .

Pendapat ketiga (tarjih penulis tafsir wal mufassirun)
1.Tidak menafsirkan semua ayat karena perkataan Ibnu Abbas tentang 4 macam tafsir.
2.Adanya ikhtilaf dikalangan sahabat tentang makna beberapa ayat
3.Banyak ditemukan riwayat-riwayat sahih tafsir-tafsir Rasul di berbagai kitab hadits
Jadi Rasul menafsirkan banyak tapi tidak semua

Pendapat pemakalah
1.Aisyah ra berkata ketika ditanya tentang akhlaq Rasul,
كان خلقه القرآن (رواه مسلم ,مسافرون باب جمع صلاة الليل 139)
Dalil pendapat pertama dan hadits ini membuktikan bahwa Rasul menjelaskan semua makna Al Qur'an.
Pendapat –pendapat diatas cenderung memandang As Sunnah hanya Qouliyah saja dan secara sharih disebutkan bahwa beliau memaknai ayat tertentu. Padahal
As Sunnah mencangkup qouliyah,fi'liyah,taqririyah serta semua gerak dan diamnya Rasulullah SAW adalah As Sunnah yang menjelaskan semua makna Al Qur'an.
Adapun tentang qoul Ibnu Abbas tentang 4 macam tafsir,yaitu ada tafsir yang langsung bisa dipahami orang arab dan tafsir jenis ini dikatakan tidak membutuhkan penjelasan Rasul maka saya katakan ketika para sahabat atau Kuffar arab pada masa itu langsung bisa memahami beberapa ayat kemudian Rasul diam dengan penafsiran mereka dengan bahasa mereka maka itu termasuk As Sunnah Taqririyah yang juga menjelaskan makna Al Qur'an karena seandainya makna yang mereka pahami dari Al Qur'an dengan bahasa mereka salah maka Rasul akan meluruskan makna yang salah tersebut sehingga ketika sebuah realitas sahabat di luar pengetahuan Rasul sedang mereka belum mengetahui hukum syar'inya maka mereka akan menceritakan realitas tersebut kepada beliau.
Adapun tafsir yang makna/maksud Allah tentang ayat-ayat mutasyabihat yang ta'wilnya hanya diketahui oleh Allah,maka jawabannya adalah makna ayat 7 dari surat Ali Imron telah dijelaskan Rasul dalam hadisnya
«إذا رأيتم الذين يجادلون فيه فهم الذين عنى الله عز وجل فاحذروهم»(انظر:عمدة التفسير)

Kejelasan makna ayat dan hadits diatas menunjukkan bahwa Rasulullah sebagai Mubayyin Al Qur'an telah merealisasikan tugasnya dengan sangat sempurna sebagaimana dalam riwayat Aisyah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Syarah Muqaddimah Fi Ushul Tafsir menegaskan bahwa orang yang berpendapat bahwa Rasul tidak menjelaskan semua makna Al Qur'an berarti telah menuduh Rasul dengan 2 kemungkinan,pertama beliau tidak mengetahui makna semua ayat atau dengan kata lain bodoh,kedua beliau menyembunyikan beberapa makna ayat atau dengan kata lain khianat karena tidak menyampaikan amanah yang diberikan Allah yaitu menjelaskan lafadh Al Qur'an dan maknanya sekaligus.
Ini semua membuktikan keabsolutan makna Al Qur'an dan sekaligus membantah syubhat kuffar yang menyatakan bahwa Al Qur'an yang absolut hanya lafadhnya saja sedang maknanya relatif karena dipahami oleh akal manusia yang relatif .
Oleh karena itu penulis kembali tegaskan dengan hadits,
قال النبي صلى الله عليه وسلم : « تركتكم على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك » .
( صحيح ) رواه أحمد ( 4 / 126 ) ، وابن ماجه ( 43 ) ، والحاكم ( 1 / 96 ) ، وابن أبي عاصم ( 48 ، 49 ) وقد صححه الألباني .

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Jadi,telah sempurnalah Risalah Ilahiyah secara lafadh/teks dan maknanya sekaligus kepada Insaniyah di tangan Rasulullah SAW tidak kurang dan tidak lebih.
As Sunnah Nabi dan Khulafa arRasyidin mengabsolutkan makna Al Qur'an
Lalu jika ada yang membantah," fakta sejarah memang pasti absolute tapi pemahaman manusia tentang sejarah itu relative"dan Sunnah Nabi & Khulafa' Ar Rasyidin itu termasuk sejarah.
Jawabannya adalah Al Baqarah 137.

Teks-konteks [Saba' 28,Al A'raf 158]
Setelah kita sampai pada kesimpulan diatas maka ada 1 duri syubhat lagi yang dengan mudah akan patah ketika diinjak dengan sepatu besi keimanan dan akan menusuk kaki orang yang tidak memakai sepatu tersebut. Syubhat itu akan berkata," kalau begitu kesimpulan(makna absolute teks al Qur'an adalah konteksnya) diatas menguatkan pendapat bahwa teks Al Qur'an terkait dengan konteksnya sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa diberlakukan secara universal contohnya ayat-ayat hudud.."
Syubhat ini telah dijawab oleh Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Fi Ushul At Tafsir, beliau berkata," …misalnya ayat Al kalalah turun untuk kasus Jabir Bin Abdullah , asbabun nuzul dengan kalimat seperti itu tidak bertujuan untuk menyatakan bahwa hukum ayat ini khusus untuk orang-orang tadi (yang disebutkan dalam asbab
an nuzul) dan tidak berlaku kepada yang lainnya,karena pernyataan ini secara mutlak tidak akan pernah dikatakan oleh seorang muslim atau orang yang berakal ,meskipun ada ikhtilaf dalam persoalan tentang 'lafadh umum yang mempunyai sebab khusus' apakah makna umumnya dikhususkan dengan sebab khususnya?maka tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengatakan bahwa keumuman Kitab dan
sunnah dikhususkan untuk orang-orang tertentu,maksimal mereka mengatakan,'lafadh umum itu memang dikhususkan dengan sebabnya namun hukumnya berlaku umum mencangkup apa yang mirip dengan sebab tersebut tetapi bukan umum seperti keumuman makna lafadh.."
jawaban Ibnu Taimiyah ini juga memyelesaikan problematika qoul ulama'
النصوص متناهية والوقائع غير متنلهية

Bentuk-bentuk Bayan Sunnah terhadap Al Qur'an
1.Bayan al Mujmal(tatacara & waktu-waktu shalat,kadar zakat,haji,dll) ,Taudhih Al Musykil(Al Baqarah 187),Takhsis Al 'Am(Al An'am 82),Taqyid Al Mutlaq(Al Maidah 38)Bil Yamin
2.Bayan makna lafadh atau sesuatu yang terkait dengannya (Al Fatiha 7)
3.Penambahan hukum seperti haramnya binatang buas yang bertaring
4.Bayan An Nasakh
5.Bayan At Ta'kid

D.Generasi Qur'ani
كان خلقه القرآن (رواه مسلم)
عبد الله بن عمر: (لقد عشنا برهة من دهرنا وإن أحدنا ليؤتى الإيمان قبل القرآن وتنزل السورة على محمد ? فنتعلم حلالها وحرامها وما ينبغي أن يوقف عنده منها كما تتعلمون أنتم القرآن اليوم ولقد رأينا اليوم رجالا يؤتى أحدهم القرآن قبل الإيمان فيقرأ ما بين فاتحته إلى خاتمته ما يدري ما آمره ولا زاجره ولا ما ينبغي أن يوقف عنده منه)(المستدرك للحاكم ,سنن البيهقي)
قال أبو عبد الرحمن السلمي حدثنا الذين كانوا يقرئوننا القرآن - كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما - أنهم كانوا إذا تعلموا من النبي صلى الله عليه وسلم عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل، قالوا: فتعلمنا القرآن و العلم جميعاً.

Generasi Sahabat adalah generasi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam bahkan dalam sejarah kemanusiaan secara umum karena belum pernah disaksikan dalam sejarah pribadi-pribadi yang begitu luar biasa berkumpul dalam satu tempat .
Sayyid Qutb dalam bukunya Ma'alim fi At Thariq yang mengantarkannya ke tiang gantungan menganalisa apa penyebab generasi tersebut tidak terlihat lagi di generasi-generasi Islam selanjutnya padahal Al Qur'an dan Sunnah yang membentuk generasi sahabat masih orisinil sampai sekarang,hanya Rasulullah saja yang sudah tiada,tetapi jika ketiadaan Rasulullah menjadi penyebab tidak terulangnya generasi sahabat maka Allah tidak mungkin menjadikan Islam sebagai dakwah internasional hingga akhir zaman,jadi ketiadaan Rasul bukan menjadi penyebabnya, kemudian Sayyid Qutb menemukan ada 3 sebab yang membedakan generasi sahabat dengan generasi-generasi Islam setelahnya,yaitu:
1.sumber konsep hidup mereka hanya Al Qur'an dan As Sunnah sebagai penjelasnya
Ibn Taimiyah menemukan ada 2 penyebab utama pnyimpangan tafsir dengan istidlal karena ilmu itu hanya diketahui dengan 2 hal yaitu dengan naql atau dengan istidlal, adapun tafsir dengan istidlal ada 2 penyimpangan yang membedakan tafsir generasi sahabat dengan yang lain,yaitu:
a.penafsir meyakini makna-makna tertentu sebelum menafsirkan Al Qur'an kemudian membawa lafadh-lafadh Al Qur'an kepada makna-makna tersebut.
b.penafsir yang menafsirkan lafadh-lafadh Al Qur'an hanya dengan bahasa arab tanpa memperhatikan mutakallim,mukhathab dan situasi-kondisi ketika pembicaraan berlangsung.
2.manhaj interaksi mereka dengan Al Qur'an di Universitas An Nubuwah adalah manhaj menerima untuk dilaksanakan .
3.ketika seorang dari mereka masuk Islam maka ia melepaskan kepribadian jahiliyahnya yang dulu secara totalitas.


Daftar Pustaka
1.Al Qur'an.
2.Tafsir Wal Mufassirun,Dr.M.Hussein Adz Dzahabi,Darul Hadits.
3.Syarah Muqaddimah Fi Ushul At Tafsir,Muhammad bin Shalih Al Utsaimin,Darul Aqidah.
4.Syarah Muqaddimah Fi Ushul At Tafsir,Dr.Musa'id bin Sulaiman, Dar Ibn Al Jauzi.
5.Al Itqan fi Ulum Al Qur'an,Al Hafidh Jalaluddin Abdurrahman As Suyuti,tahqiq Ahmad bin Ali,Darul Hadits.
6.Umdah At Tafsir,Ahmad Syakir,Darul Wafa'.
7.Ma'alim Fi At Thariq,Sayyid Qutb,website:
http://www.tawhed.ws/.
8.Maktabah Syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar